Sore itu, 15 Agustus 2026, ruang Auditorium Kampus D Universitas Gunadarma sudah gelap. Sekelompok orang memainkan musik, membawakan lagu dari Efek Rumah Kaca. Di tengah panggung, seorang aktor berdiri mematung. Layar di belakang menampilkan siaran langsung seorang lelaki yang tengah menggambar di atas meja. Di tengah suasana itu, penonton satu per satu memasuki auditorium dan memilih kursi secara acak.
Setelah sekitar tiga lagu dengan beragam genre tuntas dimainkan, seorang MC yang berpakaian rapi dan berkacamata masuk ke panggung yang terletak di tengah penonton (panggung tersebut memang ditata seperti arena). Usai berpetatah-petitih selayaknya pembawa acara, ia pun membacakan sinopsis pertunjukan berjudul Waktu-waktu yang Menyembunyikan Taringnya.
Tunggu! Bukankah Kelompok Teater Tema dari Gunadarma dalam Festival Teater Kampus 2026 ini akan membawakan lakon Metode Kritik Teater? Lalu, mengapa sinopsis yang dibacakan malah Waktu-waktu yang Menyembunyikan Taringnya?
Tiga orang perempuan bangkit dari kursinya dan menuju ke tengah panggung. Mereka menari dalam sebuah koreografi. Lelaki berpakaian hitam yang sejak tadi berdiri diam itu pun ikut bergerak. Seorang aktor lain, dengan mengendarai sepeda mini, masuk dari sisi belakang dan berlagak seperti anak kecil yang ceria serta penuh rasa penasaran saat menyaksikan tarian-tarian para pemeran tersebut. Sesekali ia mengabadikan momen melalui ponsel yang dibawanya.
Lelaki berpakaian hitam itu lalu mendatangi satu per satu pemeran perempuan. Ia mengintervensi gerakan mereka dan menciptakan adegan yang mengingatkan pada gambaran "The Three Wise Monkeys (See No Evil, Hear No Evil, Speak No Evil)". Masing-masing pemeran perempuan itu dipaksa untuk menutup mata, telinga, dan mulutnya.
Gerakan mereka terus berlanjut dengan beragam simbol yang dihadirkan. Di tengah kegelapan, dengan lampu yang hanya menyorot ke pusat panggung, suara dua orang yang mengobrol terdengar samar. Awalnya saya mengira itu hanya suara yang bocor akibat kesalahan teknis. Namun, lama-kelamaan obrolan itu mulai mendapatkan relevansinya di telinga saya. Kedua orang itu sedang membicarakan pertunjukan yang berjalan:
“Sudah kutebak, mereka akan ngulet seperti itu.”
“Menari, Mas.”
“Apa bedanya?”
“Konsep.”
“Narasi memang akan selalu membentuk cara pandang orang. Begitulah cara konsep bekerja.”
Ah, paham! Ternyata pertunjukan ini adalah meta-teater. Mereka sedang memainkan teater di dalam teater. Kedua penonton yang mengobrol itu agaknya adalah agen-agen pertunjukan yang sengaja disusupkan di antara penonton lainnya. Dengan demikian, Waktu-waktu yang Menyembunyikan Taringnya adalah pertunjukan yang ada di dalam pertunjukan Metode Kritik Teater itu sendiri.
Bagian paling ambisius dari pertunjukan ini jelas adalah sesi partisipatorisnya. (sumber foto: Annisa)
Pertunjukan pun berlanjut. Pintu utama ruang auditorium terbuka, lalu sepasang lelaki dan perempuan masuk dengan tergopoh-gopoh. Keduanya terlibat perdebatan dengan volume suara yang cukup mengganggu. Bahkan setelah mereka duduk, pertikaian itu tak kunjung usai.
Berbeda dengan agen-agen penonton sebelumnya—saya yakin pasangan ini pun sebenarnya agen pertunjukan yang sengaja disisipkan—perdebatan mereka kali ini muncul justru dari kebingungan akan makna pertunjukan yang sedang berlangsung. Puncaknya, sang perempuan merajuk dan meninggalkan ruang pertunjukan.
“Aku udah nggak tahan, aku mau keluar. Aku nggak paham.”
“Sabar, sayang. Setengah jam lagi paling sudah selesai. Plis, ini pertunjukan bagus. Kamu kan sudah janji sama aku, kamu mau menonton sampai selesai.”
“Karena di kepalaku nonton drama, bukan nonton orang menari yang ngomong nggak jelas.”
Sepasang penonton tadi keluar. Mereka meninggalkan ruangan dengan perdebatan yang menggantung di udara. Tapi pertunjukan tak memberi waktu bagi kita untuk larut dalam perdebatan itu. MC kembali muncul di tengah panggung arena. Kali ini, ia membuka sebuah ruang dialog.
“Ini bagian dari pertunjukan,” katanya dengan mikrofon tergenggam di tangannya. “Kami ingin mendengar kalian. Siapa pun yang punya keresahan, yang ingin bicara, silakan. Kami buka lebar. Di sini, di ruang ini, atau melalui siaran langsung di TikTok kami.”
Layar di sisi panggung langsung menampilkan siaran langsung. Seorang perempuan mulai bercerita. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha tegar. Ia bercerita tentang pengalamannya menjadi korban pelecehan oleh seorang sopir ojek online beberapa bulan lalu. Bagaimana ia merasa tidak berdaya, dan bagaimana trauma itu masih menghantui. MC mengangguk, berterima kasih, dan memastikan bahwa tim pendamping akan menghubunginya setelah pertunjukan usai.
Belum sempat suasana pulih, seorang penonton mengangkat tangan. Ia bercerita tentang perundungan yang ia alami sejak kecil. Tentang bagaimana ejekan, cemoohan, dan isolasi dari teman-teman sebayanya telah membentuk luka yang tak kunjung sembuh. Bahkan, hingga dewasa bayang-bayang masa lalu itu masih sering muncul di saat-saat tertentu.
Seorang penonton lain menyusul. Kali ini seorang mahasiswi yang bercerita tentang aktivitas kemahasiswaannya yang dibatasi oleh pihak kampus. Sesi itu berlangsung cukup panjang. Beberapa cerita lain terdengar. Sebelum MC menutup ruang dialog, sebuah pesan teks panjang masuk ke layar ponsel yang terhubung ke proyektor di belakang panggung.
Pesan itu dari seseorang yang mengaku sebagai aktor. Ia tidak menyebut nama, hanya gelagat keputusasaan yang merambat di setiap kalimat. Sudah lama ia tidak mendapat panggilan kerja. Utang menumpuk. Anak dan istri menunggu di rumah. Ia pernah meyakini bahwa aktor adalah profesi serba bisa tapi kenyataan berkata lain. Panggung tidak lagi membutuhkannya.
Di bangku penonton, obrolan kecil mulai bermunculan lagi. Kali ini tidak tentang simbol atau metafora, tetapi tentang sesuatu yang lebih konkret. Nasib si aktor tak laku tadi mengingatkan mereka pada perdebatan sebelumnya tentang manajemen teater, tentang bagaimana para pekerja seni seringkali dianggap idealis tanpa perlu makan.
“Tirai” pertunjukan "Waktu-waktu yang Menyembunyikan Taringnya" pun ditutup. Para pemain tampil ke depan untuk bersalaman, menerima tepuk tangan penonton. Tapi kemudian, ketika tepuk tangan mulai mereda, kita menyadari—dengan sedikit ragu— bahwa pertunjukan belum benar-benar selesai. Yang selesai hanyalah Waktu-waktu yang Menyembunyikan Taringnya, bukan Metode Kritik Teater.
Penonton perlahan mulai beranjak. Di sisi lain panggung, sang sutradara terlihat berjalan menghampiri dua penonton yang sedari tadi sibuk mengomentari pertunjukan. Wajahnya ramah, hampir berlebihan. Ia bersalaman, tersenyum lebar, bertukar basa-basi tentang ide, konsep, dan rencana pentas ke Jepang. Ada keakraban yang terasa dibangun, tapi jika diteliti lebih dalam, ada sebuah kepalsuan yang sulit diidentifikasi.
Tepat saat sutradara hendak beranjak, seorang aktris perempuan mendekatinya. Ia menarik lengan sutradara pelan, mengajaknya bicara sebentar. Sutradara sempat menolak dengan halus, masih berkutat dengan acara ramah-tamah bersama para penonton. Aktris itu bersikeras. Akhirnya, mereka berdua berjalan menuju sisi belakang panggung.
Dengan sengaja, pertunjukan ini mengaburkan batas antara panggung dan penonton, antara cerita dan kenyataan, antara pertunjukan yang sedang berlangsung dan pertunjukan yang dibicarakan. (sumber foto: Annisa)
Penonton yang tersisa tidak melihat langsung apa yang terjadi di sana. Namun, layar proyektor di bagian belakang menampilkan siaran langsung dari sudut belakang panggung. Di layar itu, terlihat jelas sutradara dan aktris tersebut sedang terlibat pembicaraan yang tampak serius. "Aku hamil, Mas."
Sutradara terdiam. Wajahnya berubah. Senyum ramah tadi menguap seketika. Sutradara itu menatap ke sekelilingnya dengan gelisah, seolah takut ada yang melihat. "Enggak bisa, ya, digugurin?" tanyanya dengan nada setengah berbisik, setengah memohon. Aktris itu terdiam. Harapannya hancur.
Lampu di layar proyektor mati. Ruangan kembali gelap. Hening. Pertunjukan Metode Kritik Teater pun usai.
***
Setelah pertunjukan usai dan lampu mulai menyala, saya mencoba merangkai kembali pengalaman yang baru saja saya saksikan. Pertunjukan Metode Kritik Teater yang dibawakan Kelompok Teater Tema Gunadarma adalah pertunjukan yang diangkat dari naskah berjudul sama. Dalam catatan di balik naskah ini, penulisnya— Kedung Darma Romanshah—menulis bahwa ia ingin menciptakan pertunjukan yang tidak berhenti di panggung.
Ia menawarkan “sebuah sistem yang mengakomodasi keterlibatan berbagai jejaring untuk merespons beragam persoalan masyarakat sekaligus menghadirkan solusi yang berkeadilan.” Dan, adegan-adegan awal ini, dengan segala kebingungan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkannya, seolah menjadi pintu masuk untuk membongkar kebiasaan kita sebagai penonton yang pasif.
Yang menarik, naskah ini sama sekali tidak bergantung pada dramaturgi konvensional. Tidak ada tokoh utama yang jelas sejak awal, tidak ada konflik yang dipertajam, tidak ada klimaks yang dinanti. Yang ada justru pengalaman fragmentaris, sebuah perjalanan yang mengajak penonton untuk bertanya, apa yang sedang saya tonton ini? Dan, dalam konteks teater, pertanyaan itu mungkin adalah pertanyaan paling penting yang bisa diajukan. Sebab, dengan bertanya, kita mulai meragukan. Dengan meragukan, kita mulai berpikir kritis.
Saya teringat pada pendekatan pasca-dramatik (postdramatic) yang sering disebut dalam diskusi-diskusi teater kontemporer belakangan. Hans-Thies Lehmann, dalam teorinya, mengatakan bahwa teater pasca-dramatik tidak lagi berusaha membangun ilusi realitas, melainkan menghadirkan realitas itu sendiri—termasuk realitas penonton, realitas ruang, dan realitas peristiwa pertunjukan. Dan, di sinilah saya merasa Metode Kritik Teater bermain. Dengan sengaja, pertunjukan ini mengaburkan batas antara panggung dan penonton, antara cerita dan kenyataan, antara pertunjukan yang sedang berlangsung dan pertunjukan yang dibicarakan.
Namun, sebagai sebuah pertunjukan, ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan. Bagian paling ambisius dari pertunjukan ini jelas adalah sesi partisipatorisnya. Membuka ruang bagi penonton untuk berbicara langsung, mengadukan persoalan hidup mereka di tengah pertunjukan, adalah langkah berani yang patut diapresiasi. Sayangnya, justru di sinilah letak kelemahannya paling terasa. MC yang menjadi pusat gravitasi dari sesi ini agak kurang mampu membangun suasana yang hangat dan mengalir.
Ada banyak jeda—dead air—yang terasa membosankan. Saat seorang penonton selesai berbicara dan MC mencari kata-kata untuk merespons, keheningan itu berlangsung terlalu lama. Alih-alih terasa seperti percakapan yang hidup, sesi ini kadang terasa seperti acara pengaduan masyarakat yang kikuk dan kaku.
Masalah teknis juga turut memperparah keadaan. Sistem suara yang digunakan tidak cukup optimal untuk menangkap suara-suara penonton yang berbicara dari bangku mereka. Beberapa kesaksian yang seharusnya menyentuh justru tenggelam dalam dengungan ruangan dan musik latar yang tidak segera diredam. Dialog-dialog penonton yang menjadi inti dari sesi ini sering kali tidak mudah dicerna, dan sebagai penonton, saya merasa kehilangan sebagian dari bobot emosional yang seharusnya sampai.
Ini menunjukkan bahwa naskah “Metode Kritik Teater” sebenarnya memiliki konsep yang bagus dan relevan. Ia menawarkan sebuah cara baru untuk melihat teater sebagai ruang partisipasi dan pengaduan publik. Namun, konsep sekelas itu juga memiliki risiko besar karena ia bisa tidak sampai ke penonton jika penyajiannya tidak matang.
Sebuah pertunjukan yang ingin mengaburkan batas antara panggung dan kehidupan nyata justru harus lebih peka terhadap detail-detail teknis yang membuat pengalaman itu terasa hidup. Suara, pencahayaan, dan kepiawaian MC dalam memandu dialog adalah hal-hal kecil yang ternyata menentukan apakah sesi partisipatoris itu akan terasa seperti keajaiban atau sekadar formalitas yang membosankan.
Lalu ada juga persoalan mengenai struktur meta-teater yang berlapis-lapis. Meski ini adalah permainan yang cerdas, tapi kadang berisiko membuat penonton kehilangan pijakan. Saya melihat beberapa orang di sekitar saya tampak bingung, tidak yakin kapan mereka harus merespons sebagai penonton sungguhan dan kapan mereka sedang diajak bermain dalam skenario yang sudah diatur. Batas yang kabur memang menjadi tujuannya, tapi jika kebingungan itu berubah menjadi frustasi, maka lagi-lagi pesan yang ingin disampaikan justru hilang.
Namun, terlepas dari semua catatan itu, saya tetap merasa bahwa Metode Kritik Teater adalah pertunjukan yang penting. Di tengah menjamurnya teater-teater yang hanya mengutamakan hiburan instan, kelompok ini memilih jalan yang sulit dengan menawarkan ruang bagi suara-suara yang jarang didengar, mengangkat isu-isu yang sering dianggap tabu, dan mencoba membangun jembatan antara seni dan kehidupan nyata.
Apalagi jika mengingat adegan pamungkas di belakang panggung itu. Adegan yang hanya tersaji lewat rekaman ponsel dan menampilkan sisi gelap dari relasi kuasa di dunia teater itu sendiri. Barangkali di situlah pertunjukan ini berhasil menancapkan paku kritik terakhirnya dengan menunjukkan bahwa kritik tidak hanya bisa diberikan untuk sistem di luar, tetapi juga untuk sistem yang kita jalani sendiri. Sebab, kita tahu, sekalipun dunia teater kerap mendaku diri mengusung idealisme, tetap saja tidak kebal dari praktik-praktik ketidakadilan yang menggerogoti seperti virus.
Penulis: Hidayat Adhiningrat
Editor: Maysha Yusuf