Nonton
Rubrik ini memuat tulisan yang relatif pendek tentang pengalaman menonton satu pertunjukan teater kampus atau teater pada umumnya.
Don Quixote Melawan yang Tak Bisa Ditebas
Ada pula pertanyaan yang sulit saya singkirkan. Bila pertunjukan ini mengkritik budaya viral, cukupkah dengan menertawakan video viral lama, atau justru kita ikut menikmati hiburan yang sedang dikritik?
Bau Busuk Kekuasaan di Atas Kloset Muara Wangi
Pementasan TIN-JA karya Rano Sumarno di tangan Castra Mardika Universitas Negeri Jakarta dan sutradara Muhammad Ramzy pada 22 Agustus lalu akhirnya berhasil mentransformasikan urusan fisiologis yang teramat tabu dan menjijikkan menjadi sebuah panggung cermin moral yang sangat jernih bagi masyarakat.
Todongan Pistol Kemiskinan dalam Tuhan, Tolong Bunuh Emak
Dalam pertunjukan Teater Epinasti, kemiskinan seperti todongan pistol. Di mana negara dan Tuhan ketika seseorang ditodong pistol tanggung jawab semacam itu? Apakah negara dapat menjadi sasaran baru pistol itu atau malah membantu menarik pelatuk agar lebih mudah keluar peluru dari selongsongnya?
Tembok yang Tidak Pernah Ada
"Bilai", dalam bahasa Sasak, berarti keadaan sangat miskin. Satu kata yang sudah menutup segala kemungkinan romantisasi, dan sudah cukup untuk menjelaskan dari mana semua kekerasan dalam naskah Mulyadi ini tumbuh dan mengakar. Teater Zat dari Universitas Negeri Jakarta sudah mengambil pilihan dengan caranya.
Aktivis itu Mati di Tempat Pembuangan Sampah
Aktivis tidak membenci negeri ini. Mereka terlalu cinta. Tapi, apa balasannya? Mereka dianggap "sampah" oleh penguasa. Teater Camuss mencoba bereksperimen dengan naskah "The Death of The Activist" karya Taruna Perkasa Putra.
Malam Kelima Belas: Menelisik Cerita Perempuan Tionghoa
Menonton pementasan Malam Kelima Belas dari Tetra MNCU ini sesungguhnya seperti menonton cuplikan-cuplikan film. Babak 1, 2, dan 3 merupakan cerita yang 100% berbeda, tetapi mereka diikat oleh satu tema yang sama, yaitu tentang penderitaan dan stigma yang dialami oleh perempuan Tionghoa dari tiga zaman yang berbeda di Indonesia.
Autopsi Semangat Kartini: TKP di Panggung Menak
Bagaimana jika sosok Kartini yang kita ketahui dari buku pelajaran sekolah ternyata selama ini telah mengalami apropriasi? Pementasan Kartini Forensik oleh Teater Menak dari Universitas Budi Luhur (20/08/2026) mencoba menyuguhkan kesadaran baru itu.
Menonton Kartini Bersama Brecht
Teater Hijau 51 menampilkan “jasad” Kartini ke atas panggung yang ternyata hanyalah setumpukan buku yang mencatut dirinya. Tokoh Kartini tidak pernah benar-benar ditampilkan untuk mengungkapkan identitas dirinya. Pementasan ini tentu tidak ingin membuat penonton bersedih akan ketidakjelasan identitas Kartini, melainkan untuk berefleksi: apa benar Kartini yang selama ini kita kenal adalah tunggal dan ajek?
Rasuah di Sepetak MCK: Catatan Atas Pementasan TIN-JA oleh Teater Kafha
Elemen bau benar-benar turut andil dalam pementasan ini. Para penonton–setidaknya saya–dapat mencium aroma tak sedap dari arah MCK. Percobaan panggung ini memungkinkan indera penonton lebih teraktivasi. Andri Apriyatna sebagai sutradara sekaligus penyadur naskah tampaknya sadar betul akan kesempatan ini.
Teater yang Menonton Dirinya Sendiri: Menyigi Metode Kritik Teater
Tunggu! Bukankah Kelompok Teater Tema dari Gunadarma dalam Festival Teater Kampus 2026 ini akan membawakan lakon Metode Kritik Teater?