Bayangkan sebuah pemukiman kumuh: sesak padat penduduk, warganya prasejahtera, hingga sanitasi buruk. Suasana itulah yang direpresentasikan di Universitas Paramadina, Jakarta, melalui pementasan TIN-JA karya Rano Sumarno oleh Teater Kafha, pada 12 Agustus lalu. Dengan set bersahaja–pos kamling di sisi kiri serta bangunan mandi cuci kakus (MCK) setengah jadi di sisi kanan–panggung ini menciptakan kondisi kampung urban di Jakarta pada umumnya. Set itu ditaruh pada sepetak tanah kosong yang disulap menjadi panggung, mengesankan adegan luar ruangan yang alami.
Warna lampu silih berganti dari putih, jingga, hingga biru, mengajak penonton masuk ke dalam dinamika linear warga Kampung Muara Wangi dari pagi hingga malam. Kostum para aktor, seperti ibu-ibu yang memakai daster dan muda-mudi berkaos oblong, mencerminkan kesederhanaan situasi informal. Musik latar, meski terkadang meleset sepersekian detik dari aba-aba (cue) aktor, berhasil membawa efek dagelan dan acap mendapat sumbangan tawa dari penonton.
(Tin-Ja, Teater Kafha. Foto oleh: M. Dzikri Abdillah)
Pagi hari di Kampung Muara Wangi, kita mendapati para warga mendadak sibuk kerja bakti untuk menyambut Bupati (dimainkan oleh Rafi Salam) yang akan meresmikan MCK umum pertama. Lalu, dari kejauhan terlihat rombongan orang. Bupati datang, diiringi Lurah (dimainkan oleh Abel) di belakangnya dengan gerak-gerik kikuk, menandakan kuatnya relasi kuasa di antara keduanya. Para warga pun berkerumun dan menyanyikan lagu dengan nada mengelu-elukan, “Telah datang lelaki pilihan. Telah datang lelaki pilihan. Telah datang lelaki pilihan.”
“Kalau bukan karena saya bupatinya, mungkin sampai kiamat kampung ini tidak pernah memiliki MCK.” Dengan nada congkak, Bupati membuka amanat yang segera disambut sorak-sorai warga. Sebagai ritual “peletakan batu pertama”, warga memaksa Bupati untuk menjadi orang pertama yang menaruh hajatnya di MCK itu.
Masalah muncul ketika Bupati tak henti-hentinya buang hajat. Ada semacam dorongan kuat dari dalam perut yang membuat hajatnya tak kunjung habis. Sampai-sampai, dokter didatangkan untuk memeriksa kesehatan sang Bupati. Namun hasilnya tetap nihil, Bupati dinyatakan sehat walafiat. Dengan hasil pemeriksaan itu, Bupati berhipotesis kalau ia sedang disantet.
Dari pagi hingga malam, urusan Bupati di MCK tak kunjung selesai. Hajatnya digambarkan meluber hingga ke lantai MCK. Karena MCK itu baru setengah jadi dan belum memiliki atap, baunya sampai mengganggu seisi kampung. Ini membawa kita pada konflik puncak. Para warga yang mengeluhkan bau busuk beramai-ramai mendesak Lurah di pos kamling untuk mengusir Bupati dari Kampung Muara Wangi. Namun, Lurah yang ingin menjaga marwah Bupati berusaha menenangkan warga dan mencari jalan damai.
(Tin-Ja, Teater Kafha. Foto oleh: Fadil B. Ardian)
Elemen bau benar-benar turut andil dalam pementasan ini. Para penonton–setidaknya saya–dapat mencium aroma tak sedap dari arah MCK. Percobaan panggung ini memungkinkan indera penonton lebih teraktivasi. Andri Apriyatna sebagai sutradara sekaligus penyadur naskah tampaknya sadar betul akan kesempatan ini. Ia memasukkan bau busuk pada pementasan ruang terbuka, yang diakuinya sebagai upaya eksplorasi pementasan.
Dalam naskah asli "TIN-JA" karya Rano Sumarno, alur cerita berjalan maju-mundur. Adegan dibuka dengan momen warga merencanakan pengusiran Bupati, kemudian diikuti adegan flashback ketika Bupati memberi sambutan. Sedangkan dalam gubahan Andri Apriyatna, cerita berjalan linear. Mungkin ini dipilihnya untuk lebih menekankan proses kehancuran diri Bupati secara perlahan.
Bupati–dalam gubahan Andri Apriyatna–pada awal cerita digambarkan sebagai orang yang penuh wibawa, tetapi congkak. Memasuki pertengahan cerita, wibawanya mulai luntur. Dia tak henti-hentinya buang hajat dan menjadi sumber masalah. Gangguan ini membuat warga mulai berani untuk mengusirnya. Puncaknya, citra yang berusaha dibangun Bupati benar-benar hancur-lebur di akhir pertunjukan.
Hal itu terlihat saat kedatangan paranormal bernama Ki Ledes Kehed dengan tujuan mengusir “gangguan” pada tubuh Bupati. Tak dinyana, tubuh Bupati ternyata memang dirasuki arwah yang terganggu karena tempat tinggalnya dijadikan MCK. Tanpa sengaja, sang arwah–melalui tubuh Bupati–membocorkan kalau MCK ini dibangun dari uang kotor alias korupsi. Mendengar pengakuan itu, salah seorang warga melaporkan Bupati ke lembaga antirasuah, dan ia pun diringkus.
Bupati dalam naskah ini, alih-alih dilihat sebagai seorang individu, merupakan perwujudan entitas politik yang diisi oleh orang-orang berengsek. Ia adalah sistem politik busuk yang koruptif, culas, dan congkak. Ketika akhirnya Bupati sebagai simbol kejahatan ditangkap, horizon harapan penonton terpenuhi. Penonton ikut bersorak bersama para warga saat keadilan kembali ditegakkan.
Mungkin naskah ini maupun sadurannya menaruh penekanan yang sangat berat pada karakter Bupati. Sebagai warga negara, kita memang lelah melihat kelakuan nyeleneh para pejabat atau politikus. Rasanya kita ingin tempeleng saja kepala-kepala mereka saat mengeluarkan kebijakan yang merusak dan koruptif. Namun, di sisi lain, beranikah kita mengajukan refleksi: benarkah warga tidak bisa disalahkan pada sebuah problem negara? Benarkah akar dari setiap permasalahan sosial adalah pemerintah?
Overlap Bikin Kelelep
Pementasan Teater Kafha yang termasuk dalam rangkaian Festival Teater Kampus Jakarta 2026 malam itu menghadirkan masalah sosial serius dengan cara humor yang segar dan pantas diberi tawa. Hampir setiap aktor benar-benar meresapi apa artinya menjadi penduduk kampung urban. Bahkan, aksen setiap aktor pun dibuat beragam: nyablak khas Betawi ada, medhok a la Jawa terdengar pula, aksen Sunda halus dan kasar tak absen, dan tak lupa pula logat Indonesia Timur. Secara tidak langsung ini memberitahu kita bahwa kampung ini adalah tempat berbaurnya orang-orang dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka mungkin disatukan oleh mimpi menaikkan taraf hidup, tetapi tanpa sadar malah menciptakan pemukiman kumuh.
(Tin-Ja, Teater Kafha. Foto oleh: Fadil B. Ardian)
Sayangnya, kerap kali terjadi kesalahan yang terasa mengganjal: overlap, ketika seorang aktor menghalangi aktor lain dalam blocking yang tak terjaga. Overlap ini ibarat pagar yang menghalangi penonton untuk melihat pergerakan aktor. Blocking seharusnya berfungsi sebagai penguat pesan yang ingin disampaikan naskah. Ketika terjadi overlap, aktor yang seharusnya menerima fokus penonton justru tidak kentara.
Sebagai contoh, saat Bupati memberi sambutan dan mengambil mikrofon dari tiangnya, tubuhnya justru terhalang oleh tiang tersebut. Selain menutupi tubuh Bupati yang sedang menjadi pusat perhatian, tiang mikrofon ini juga seakan “menutupi” wibawa yang sedang coba ia bangun. Overlap ini terjadi selama beberapa menit, untungnya sang aktor menyingkirkan tiang tersebut setelah menyadarinya.
Momen overlap paling fatal menurut saya adalah saat adegan kedatangan Ki Ledes Kehed (dimainkan oleh Irzie). Ia memasuki set dengan begitu mistis: membawa kemenyan bakar, pakaian serba hitam, dan napas berat seakan dapat mengendus makhluk halus. Dalam struktur cerita ia memegang aktan/peran penting, yakni menjadi peredam sebuah situasi genting sehingga kedatangannya sangat dinanti. Namun, beberapa momen saat ia masuk, sang aktor justru berjalan ke belakang kerumunan warga dan tak berpindah selama beberapa menit.
Meski begitu, pada bagian lain, tetap ada kesadaran blocking yang terasa kuat. Yakni, ketika beberapa aktor memberi petuah nyeleneh, ia maju ke depan menjadi fokus utama, sedangkan aktor lain mengikuti dan memperhatikan dengan serius. Lagi-lagi, ini menambah efek dagelan segar pada pementasan.
Penulis: Fadil B. Ardian
Editor: Maysha Yusuf