Malam ini kalian akan menghadiri sebuah pertunjukan teater. Kalian memasuki auditorium yang tempat duduknya sudah hampir penuh oleh penonton, lalu duduk ngedeprok beralaskan bantal, sangat dekat dengan panggung. Di tengah panggung, ada dua orang pria yang duduk, kelihatannya seperti sedang latihan. Panggung arena U membuat kalian menonton dari sisi samping kanan. Beruntunglah kalian duduk di paling depan bagian kanan karena aktor banyak bermain di sisi ini. Begitulah, selanjutnya kalian akan menikmati pementasan Kartini Forensik.
“Bang, lihat Ardy, nggak?”
Salah seorang aktor yang sejak awal berada di panggung tiba-tiba berdiri dan melempar tanya ke arah penonton di sebelah kiri saya.
“Nggak,” jawab penonton tersebut. Aktor itu lantas berjalan menyusuri panggung, menoleh ke belakang, sibuk mencari keberadaan Ardy.
Melalui pencarian rekan aktor inilah, babak demi babak autopsi atas sosok Kartini dimulai.
Pengantar Pementasan
Babak pertama dimulai dengan panggung yang sepi, berisi dua bangku, yang diduduki dua aktor, dan seorang aktor yang masuk sambil membawa mikrofon lengkap dengan tiangnya. Mereka tampak seperti sedang latihan, memakai kaos dan celana biasa, lalu bercakap-cakap membedah arti “forensik”.
Tak lama, tata letak kursi diubah menjadi sebuah ruang kelas berangka tahun 1887. Properti diangkut sendiri oleh para aktor. Di sini, kita disuguhi kecakapan aktor berganti peran secara telanjang dalam satu babak. Dua penata rias dan kostum yang sebelumnya duduk di belakang panggung bangkit menghampiri, membawa perlengkapan untuk mendandani ketiga aktor pria. Kita bisa melihat sanggul yang dipasangkan, kebaya yang diambil dari gantungan, hingga tahi lalat buatan yang ditempelkan agar sang aktor menyerupai karakter yang diperankan.
“Kartini!” karakter Bu Guru (dimainkan oleh Ardya Danugraha) mengabsen muridnya, yang lekas disahuti oleh dua orang yang mengangkat tangan: Kartini 1911 (dimainkan oleh Gabriel Aprilio ST) dan Kartini 1962 (dimainkan oleh Fansoli Ibnu Mustafa). Kalian mungkin bertanya-tanya, mengapa karakter Kartini dimainkan oleh laki-laki? Rasa penasaran ini sebenarnya sudah mengendap di benak saya sejak menonton trailer pementasan ini di akun Instagram @teatermenak_ubl. Pertanyaan tersebut akan terjawab seiring pementasan berjalan.
Bu Guru lantas menanyakan mengapa dua muridnya memiliki nama yang sama. Namun, jawaban yang meluncur dari kedua Kartini justru membuat raut wajahnya kian pusing. Ia melanjutkan kelas dengan menanyakan hobi mereka. Pertanyaan sederhana yang perlahan bermutasi menjadi perdebatan sengit menyoal aktivitas menulis surat dan impian Kartini. Pada titik ini, karakter Bu Guru tiba-tiba meluruh. Aktornya kini bersalin rupa menjadi Soekarno.
Ya, kalian tidak salah tangkap. Pementasan ini mengusung model teater di dalam teater. Karakter Bu Guru dimainkan oleh “Soekarno”, dan Soekarno dimainkan oleh Ardya. Tak lama berselang, Pramoedya ikut melepas perannya sebagai Kartini 1962, disusul Abendanon yang menanggalkan sanggul, kebaya, serta perannya sebagai Kartini 1911. Pementasan di Ruang Kelas 1887 ini rupanya adalah lakon rekaan yang diciptakan oleh Soekarno, Abendanon, dan Pramoedya untuk saling mengonstruksi—atau lebih tepatnya memperebutkan—identitas Kartini.
Masih dalam ruang kelas yang sama, Soekarno, Abendanon, dan Pramoedya memperdebatkan kedudukan perempuan sebagai bentuk dari revolusi. Soekarno mengambil spidol dan menulis sesuatu di papan tulis, yang sayangnya tidak kelihatan dari sisi samping panggung, tepatnya dari sisi saya duduk. Adegan ini harusnya mempertegas apa yang sedang didebatkan ketiga tokoh, tetapi saya tidak bisa merasakannya karena tidak dapat melihat isi papan tulis. Kasihan sekali saya.
Di tengah perdebatan ini, Abendanon yang melepas perannya sebagai Kartini 1911 masuk dengan berbicara bahasa Belanda. Saya kagum dengan para aktor yang memerankan lebih dari satu karakter — bahkan lebih dari tiga — dalam pementasan ini. Terlebih dengan adanya dialog bahasa Belanda yang cukup panjang oleh karakter Soekarno dan Abendanon. Saya paling terkesan dengan aktor Soekarno, ia berdialog bahasa Belanda seakan bahasa Belanda adalah bahasanya sehari-hari. Ia menunjukkan wibawa yang kuat dalam perdebatan ini. Sayangnya, ucapan Abendanon masih terkesan menghafal, padahal latar Abendanon adalah seorang Belanda.
Tepat setelah Soekarno menyelesaikan dialog bahasa Belandanya, kita kembali disadarkan bahwa kita sedang menonton pementasan teater. Ketiga aktor melepas perannya sebagai Soekarno, Abendanon, dan Pramoedya menjadi aktor biasa. Namun, perdebatan Kartini masih berlanjut.
Suara yang Dibungkam
Dari sudut gelap, seorang wanita berpakaian rapi melangkah penuh karisma ke bibir panggung, membuat ketiga aktor terdiam. Wanita itu memecah dinding keempat (breaking the fourth wall), berinteraksi dengan penonton dan membuka diskusi tentang peran Soekarno dalam membentuk wacana Kartini sebagai pelopor emansipasi. Sebuah kode QR lalu memantul di layar proyektor, kemudian penonton diajak memindainya untuk bergabung dalam Mentimeter. Pertanyaan muncul silih berganti, mulai dari siapa nama suami Kartini hingga sejarah PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Interaksi ini membuktikan bahwa konsep efek alienasi Brecht telah diterapkan secara sadar dan matang oleh Teater Menak untuk merawat nalar kritis audiens.
Asri Widadi sedang memainkan "Perempuan Penceramah". (sumber foto: Prudential Cannavaro)
Sebuah lagu terdengar, layar di panggung menampilkan lagu "Mars PKK". Lampu sorot berpindah ke arah penonton di sisi kiri berbarengan dengan lagu "Mars PKK" yang dinyanyikan oleh enam orang paduan suara berkebaya turquoise. Nilai tambah yang akan saya berikan untuk Teater Menak yang mampu menghidupkan suasana dan mengenalkan dengan baik salah satu gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.
Setelah urusan Mentimeter dan "Mars PKK", wanita itu lanjut melakukan ceramah hingga seorang wanita berpakaian serba hitam masuk ke panggung dengan aura angkuh dan raut tidak suka. Ia berjalan perlahan mendekati si penceramah. Terdengar si penceramah mengecilkan volume suaranya saat wanita berpakaian serba hitam itu ada di dekatnya. Ketika wanita berpakaian serba hitam itu menjauh, si penceramah membesarkan lagi volume suaranya.
Wanita berpakaian serba hitam itu lalu kembali mengitari penceramah. Pelan. Ketika sampai di hadapan si penceramah, tangan kirinya menampar wajah si penceramah dengan kuat. Membuat penceramah berhenti bicara untuk sekian detik. Namun, ia kembali melanjutkan ceramahnya. Tak lama, hanya sebentar. Beberapa kata dilontarkan, wanita berpakaian serba hitam segera menutup mulut si penceramah dan membawa dengan paksa si penceramah keluar dari panggung.
Adegan ini sukses membuat saya terhenyak. Ini adalah alegori visual yang tajam tentang represi kebebasan berpendapat di era Soeharto. Wanita hitam itu adalah representasi aparat negara, tamparan adalah peringatan, dan pembekapan adalah pembungkaman total atas narasi oposan. Sebuah eksekusi mise-en-scène yang apik dari aktris sekaligus sutradara Teater Menak, Asri Widadi.
Perjuangan yang Tampak Gagal
Pementasan bergulir ke latar Dapur PKK 1966-1998. Aktor yang sebelumnya menjadi Soekarno kini berperan sebagai Kartini, Pramoedya menjadi Bupati Djojoadiningrat, dan Abendanon menjelma abdi dalemnya. Entree Djojoadiningrat terasa begitu magis. Ia berjalan pelan dari belakang panggung mengenakan kain batik parang khas keraton, lengkap dengan selipan keris dan iringan gamelan yang syahdu. Sang kacung mengekor di belakang sembari memayungi tuannya dengan songsong. Lampu sorot mengawal langkah sang bupati hingga ia berdiri di dekat Kartini yang tengah asyik meracik sayur bayam.
Namun, kemegahan adegan masuk ini berbanding terbalik dengan nasib rumah tangga Kartini. Sosok yang dikeramatkan sebagai pelopor kebangkitan perempuan itu nyatanya masih tergulung ombak patriarki. Ia direduksi menjadi konco wingking—istri yang urusannya dibatasi seputar dapur, posyandu, dan logistik keluarga.
Adegan percakapan Kartini dan suaminya, Djojoadiningrat. Swarga nunut, neraka katut? (sumber foto: Prudential Cannavaro)
Di sela-sela percakapan dengan suaminya, sesekali Kartini menoleh ke arah penonton, bergumam lirik seolah ingin bergosip. “Swarga nunut, neraka katut,” ucap Djojoadiningrat, yang disahut oleh Kartini, lalu bergema repetitif memenuhi ruangan. Pepatah Jawa ini adalah pasung psikologis yang mendoktrin bahwa nasib istri di akhirat mutlak bergantung pada amal suami. Jika suami baik, istri ikut ke surga; jika suami bejat, istri terseret ke neraka. Metafora telak betapa Kartini pun tak kuasa melawan bayang-bayang patriarki di eranya sendiri.
Saat gema pepatah itu mereda, aktor Kartini telah bertransisi menjadi Soeharto. Berdiri di balik mikrofon, ia merogoh selembar kertas dari saku dan mulai berpidato tentang “cita-cita Kartini” versi Orde Baru. Gesturnya menyalin persis foto-foto pidato Presiden Soeharto. Jempol patut diberikan kepada tim tata rias dan kostum: mulai dari motif batik parang hingga bingkai kacamata ikonik sang jenderal, semuanya digarap sangat jeli.
Pidato usai, peran kembali ditanggalkan. Aktor pemeran Abendanon datang membawa setumpuk buku, memicu perbincangan literatur mengenai apropriasi Kartini. Adegan ini menjadi jembatan krusial untuk mengunyah esensi utama pementasan.
Bedah Buku
Panggung berubah menjadi sebuah Acara Bedah Buku Appropriating Kartini bersama para penulis dalam ruang Zoom Meeting. Boleh dibilang ini adalah langkah cerdas yang dilakukan oleh Teater Menak. Tim rias dan kostum tidak perlu memikirkan bagaimana riasan dan baju apa yang dipakai untuk menggambarkan aktor sebagai penulis buku tersebut. Cukup memanfaatkan profil foto di Zoom, karena penonton difokuskan untuk melihat pada layar. Pemanfaatan teknologi yang cerdik. Selain masalah aktor, rias, dan kostum, teknik bedah buku yang ditampilkan membuat topik ini terasa lebih ringan untuk ditonton dalam teater. Walau sama-sama mendengar ocehan para aktor, setidaknya cara ini terasa lebih modern.
Perjuangan yang Gagal
Selesai mengikuti bedah buku, akhirnya kalian akan diajak masuk ke ruang pengadilan semu. Penyusunan ruang kali ini ditemani dengan lagu "Bayar Bayar Bayar" karya Sukatani Band — lagu kontroversial berisi kritik sosial, khususnya untuk oknum aparat, yang saat ini telah ditarik dari peredaran. Yang menarik perhatian adalah di sisi kanan panggung, seseorang dengan balaclava biru, di atasnya membentuk rambut duri ala anak punk, yang tiba-tiba naik ke atas meja lalu memainkan gitar elektrik. Penampilannya persis seperti Sukatani Band. Permainan musik secara live tersebut membuat penonton fokus melihat ke arahnya, sementara tim properti menata panggung menjadi sebuah TKP.
Saat kalian menengok kembali ke arah panggung, panggung sudah dibatasi dengan garis polisi. Sebelum lampu menyorot mereka, kita dapat melihat korban terbaring di bawah dengan kepala beralaskan tumpukan buku, polwan yang menggunakan topi polisi, masker medis, dan sarung tangan medis, serta seorang ibu penjaga kantin, lengkap dengan celemek dan spatula masaknya, datang sebagai perwakilan tim forensik — karena hanya dia seorang perempuan di kantor forensik. Tiga aktor yang sama berperan kembali di babak ini.
(Ruang Pengadilan Semu. Foto: Prudential Cannavaro)
Nit–Nit–Nit
Suara monitor pasien melatarbelakangi pemeriksaan forensik. Penjaga kantin mengambil selembar kertas catatan dari kantong celemeknya dan mulai membacakan Laporan Tim Forensik. Laporan ini berisi sebelas judul buku yang tersimpan di bawah kasur korban.
Setelah laporan selesai dibacakan, lampu segera meredup, menyisakan gelap di panggung. Orang-orang mulai bertepuk tangan, tanda pentas telah selesai.
“Gelap sekali. Saya tidak bisa membaca biodata saya,” korban bersuara. Dalam keadaan gelap ia berteriak lagi, “Masih GELAP!” Demikian pentas ditutup dengan perjuangan Kartini yang tampaknya masih gagal membangun emansipasi perempuan di Indonesia. Identitas Kartini — di sini berarti segala pemahaman, semangat, dan cita-cita — yang ia perjuangkan selama itu tidak dicerna dengan baik oleh penguasa dan juga masyarakat. Perspektif dari berbagai tokoh saat itu justru membuat identitas Kartini menjadi carut-marut dan perempuan pada akhirnya seakan masih menjadi makhluk kelas dua dalam struktur sosial.
Boleh saya katakan proses kreatif yang Teater Menak jalani selama latihan telah berhasil membangun pementasan Kartini Forensik yang ciamik. Mereka punya cara-cara unik untuk terus menyadarkan penonton dalam pementasan ini. Penonton benar-benar dilibatkan dalam pementasan. Interaksi aktor dengan penonton, lelucon-lelucon yang dikeluarkan.
Sayangnya dalam adegan setelah bedah buku, ketika nuansa percakapan telah terbangun dengan baik, ada lelucon yang miss, tidak tepat dilontarkan. “Lagi bete kali ya?” Lelucon ini tampaknya berniat untuk mencairkan suasana, tetapi justru membuat saya bingung: Siapa yang dimaksudkan sedang bete, apakah ini sedang menyindir pemerintah?
Menonton pementasan ini rasanya seperti menonton pertunjukan lenong. Saya bisa menikmati setiap adegan yang dimainkan, cair dengan tingkah konyol dan lelucon yang dilemparkan, mengamati setiap gebrakan. Namun, yang patut diperhatikan adalah makna, makna yang rasanya jadi kabur dalam pementasan ini. Butuh waktu bagi saya untuk memahami makna yang ingin disampaikan oleh pementasan. Terutama dalam bagian yang porsi leluconnya cukup berlebih. Kemudian pada adegan bedah buku, yang seharusnya membuat penonton lebih mudah untuk memahami, saya justru merasa hilang dalam pembahasan.
Meski begitu, penghormatan tinggi layak disematkan kepada kualitas keaktoran, ketelitian detail artistik, ketajaman sutradara, dan kerja keras seluruh kerabat kerja Teater Menak. Selamat telah menuntaskan ibadah teater di FTKJ 2026!
Penulis: Prudential Cannavaro
Editor: Maysha Yusuf