Cap Go Meh atau Malam Kelima Belas dalam rangkaian Tahun Baru Imlek seharusnya menjadi malam penuh harapan dan keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Namun, dalam tiga malam Cap Go kali ini, hanya perdebatan panjang yang memenuhi rumah dari tiga keluarga keturunan Tionghoa generasi 1998, 2024, dan 1968. Masing-masing membuka cerita yang tak pernah usai hingga akhir pementasan.
Berangkat dari cerita perempuan-perempuan Tionghoa yang mengalami penindasan dan pergulatan mereka dalam mempertahankan jati diri, pada malam keempat belas rangkaian FTKJ 2026, kelompok Tetra MNCU (Media Nusantara Citra University) menampilkan pementasan berjudul Malam Kelima Belas yang diangkat dari lakon karya Angelina Enny pada 15/06/2026.
Cap Go Meh 1998
♪ Ni wen wo ai ni you duo shen.. Wo ai ni you ji fen
Lagu “The Moon Represents My Heart” (Yue Liang Dai Biao Wo de Xin) karya Teresa Teng membuka panggung bernuansa Cap Go Meh di Auditorium MNC University. Menampilkan sebuah keluarga yang terdiri atas Popo, Melan, dan Niyen yang sedang menyiapkan makan malam untuk perayaan Malam Kelima Belas Tahun Baru Imlek. Perbedaan usia di antara mereka, terutama Popo dan Niyen, memicu perdebatan di malam itu. Popo yang masih memegang kuat tradisi Cap Go Meh, Melan yang menghargai tradisi sekaligus juga menerima akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia, dan Niyen yang dianggap tidak tahu adat oleh Popo sebab banyak menentang ucapannya. Perdebatan terjadi selama mereka menunggu Ming (yang merupakan anak dari Popo, suami Melan, dan ayah Niyen) pulang kerja.
(Melan, Popo, dan Niyen. Foto diambil oleh: Prudential Cannavaro)
Tak lama sosok lelaki muncul dari arah pintu. Ming pulang dengan keadaan sedih yang mendalam. Awalnya terasa ganjil, mengapa Ming yang ditunggu-tunggu untuk pulang, justru tidak disambut oleh keluarganya saat masuk rumah. Keganjilan ini segera terjawab. Ia berjalan ke altar sembahyang dan menangisi keluarganya.
Dari mereka berempat, hanya Ming yang masih hidup hingga masa kini. Cerita Popo, Melan, dan Niyen adalah cerita di tahun 1998. Latar waktu ini diperkuat oleh berita dari siaran radio yang sempat disetel Popo, berita itu menyiarkan tentang kenaikan harga pangan dan demonstrasi mahasiswa, krisis moneter di Indonesia tahun 1998. Bagaimana mereka bertiga meninggal tidak diceritakan dalam pementasan. Namun, adegan berikutnya saya rasa cukup untuk menjelaskan bahwa Popo, Melan, dan Niyen merupakan korban dari tragedi '98. Selingan dari babak 1 ke babak 2 ini menampilkan berita tentang situasi '98: sekelompok perempuan yang berusaha menyelamatkan diri, pemerkosaan massal perempuan Tionghoa, penindasan, dan pembakaran.
Cap Go Meh 2024
Ketika panggung terang kembali, kita telah dihadapkan dengan tiga kotak berwarna merah dengan masing-masing hanzi (aksara Tionghoa) di depannya. Hanzi paling kiri merujuk pada “tidak ada”, dalam hal ini berarti tidak punya anak. Hanzi pada kotak tengah berarti lajang tua, sedangkan hanzi paling kanan berarti cerai. Setiap hanzi pada kotak tersebut merepresentasikan “sial” yang dialami masing-masing perempuan di dalam kotak.
(Fifi, Erna, Yanti, dan Mama. Foto diambil oleh: Tifani Arzia Putri)
Babak kedua ini mengambil latar di tahun 2024, tampak dari kostum dan cara bicara yang lebih modern dari babak sebelumnya. Pada malam Cap Go tahun 2024, tiga orang perempuan Tionghoa, yaitu Fifi, Yanti, dan Erna, dipaksa untuk melakukan ritual Ciswak oleh ibunya yang kolot, Mama. Ritual Ciswak adalah tradisi tolak bala dalam masyarakat Tionghoa yang biasanya dilakukan menjelang Tahun Baru Imlek atau perayaan Cap Go Meh.
Fifi adalah perempuan yang berada di kotak dengan hanzi “tidak ada”. Ia dianggap sial karena belum punya anak dan suaminya selingkuh. Yanti berada di kotak dengan hanzi “cerai” karena ia telah kawin cerai beberapa kali. Dan, Erna berada di kotak dengan hanzi “lajang tua” karena belum menikah juga sampai usia 30 tahun.
Kotak ini adalah representasi dari kekangan. Mereka bertiga terjebak dalam stigma masyarakat (khususnya masyarakat Tionghoa). Masing-masing dari mereka dianggap sial atas hal-hal yang menimpa mereka (tidak punya anak, cerai, belum menikah). Mereka berusaha menyuarakan kegelisahan yang mereka alami, tetapi mereka hanya dianggap sebagai anak perempuan pembangkang oleh sang ibu.
Tradisi Tionghoa biasanya memang memiliki aturan yang ketat mengenai pernikahan. Ada keyakinan tentang selisih usia atau jarak usia pasangan, shio, hingga penanggalan pernikahan yang disesuaikan dengan shio kedua calon pengantin. Ditambah dengan tokoh Mama yang kolot dan materialistis, rasanya kesialan tiga anak perempuan ini justru bertambah akibat stigma yang ditimbulkan oleh ibunya sendiri.
Suara dari pakaian Mama yang menyerupai gemerincing barongsai menutup babak 2 yang, lagi-lagi, penuh dengan perdebatan. Tepat saat Mama keluar dari panggung, muncul barongsai yang tampil meriah dengan latar musiknya yang khas, perpaduan tabuhan gendang, gong, dan simbal yang mengatur ritme gerakan barongsai. Pertunjukan barongsai dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan dan mengusir energi negatif. Pertunjukan ini seakan ditujukan tidak hanya untuk menghibur penonton, tetapi juga sebagai pelengkap setelah ritual Ciswak yang sebelumnya dilakukan untuk Fifi, Yanti, dan Erna, demi mengusir segala sial yang mereka alami.
Cap Go Meh 1968
Setelah pergantian babak yang menghibur oleh kehadiran barongsai, dari tahun 2024 kita mundur lebih jauh ke tahun 1968. Malam Cap Go kali ini menceritakan seorang ibu (Mama) dan anak perempuanya (Li Ni) yang sedang membereskan rumah untuk perayaan Cap Go Meh. Di tahun ini Instruksi Presiden melarang seluruh kegiatan ke-Tionghoa-an, menyisakan Mama dan Li Ni yang penuh kehati-hatian dan kedukaan akibat hilangnya sosok ayah pada tahun 1965. Latar waktu ini merujuk pada peristiwa G30S/PKI, di mana banyak penghilangan orang, termasuk orang-orang Cina karena saat itu dianggap sebagai komunis.
Perdebatan kali ini datang dari Mama dan Li Ni, yang rasanya menjadi perdebatan yang paling mudah untuk dimaklumi, baik dari sisi Mama maupun sisi Li Ni. Mama yang rela melakukan apa pun demi keamanan diri dan anaknya setelah tragedi mengenaskan yang mereka alami, termasuk untuk menikah lagi. Dari sisi Li Ni, ia hanyalah seorang anak yang menyimpan trauma akibat kehilangan sosok ayah dan sahabat menarinya dalam peristiwa 1965. Kemudian, usaha mengubah nama Li Ni menjadi nama Indonesia di KTP dilakukan Mama untuk menghindarkan Li Ni dari segala ancaman yang mungkin terjadi. Namun, Li Ni hanya ingin menyimpan kenangan terakhir yang telah diberikan ayahnya, yaitu nama Li Ni.
Benang Merah
Menonton pementasan ini sesungguhnya seperti menonton cuplikan-cuplikan film. Babak 1, 2, dan 3 merupakan cerita yang 100% berbeda, tetapi mereka diikat oleh satu tema yang sama. Tema ini yang memunculkan benang merah antar-babak.
Untuk memahami pementasan ini, kita harus menarik satu benang yang terjalin dari babak 1 hingga babak 3. Tetra MNCU telah merajut semua suara perempuan Tionghoa dari naskah Malam Kelima Belas menjadi satu pementasan. Shout-out untuk sutradara Tetra MNCU, Elsa Nabilah Tuzahra, yang berani mengambil naskah ini untuk menyuarakan kisah perempuan Tionghoa yang selama ini jarang terdengar, yang mengungkap berbagai stigma terhadap masyarakat Tionghoa yang selama ini tertanam dalam kebanyakan masyarakat Indonesia.
“Berbeda babak tapi satu tujuan, ada satu benang merah yang kalau ditarik sama-sama ingin menyuarakan perempuan,” jelas Elsa mengungkapkan premis cerita pementasannya. Sayangnya benang merah ini yang tampaknya masih sulit untuk diraih saat menonton pementasan. Eksekusi naskah ini perlu dipoles lagi untuk melingkari makna yang ingin disampaikan oleh teks dan sutradara.
Selingan dari babak 1 ke 2, ketika sekelompok perempuan berjalan memegang senter dalam gelap, ketika mereka berteriak-teriak minta pertolongan kiranya cukup membingungkan. Dari babak 1 ke selingan ini terkesan “lompat” cerita, menyisakan plot hole yang harus disusun isinya oleh penonton. Namun, sesungguhnya adegan ini dimaksudkan sebagai penekanan untuk menggambarkan penindasan, pemerkosaan, dan penghilangan perempuan di tahun 1998 (dan juga menyangkut situasi 1968). Para perempuan yang menjadi korban, tetapi namanya terlupakan dan hilang dalam catatan sejarah.
Bergeser ke poin lain, ada satu hal yang berhasil tersampaikan dengan tegas dalam pementasan ini: memutus stigma orang Tionghoa sebagai orang kaya. Sejak masa kolonial, banyak penduduk di Indonesia yang menganggap masyarakat keturunan Tionghoa pastilah orang kaya, orang berduit, atau eksklusif. Padahal realita menunjukkan fakta lain.
“Memangnya kamu nggak takut jadi Cina? Kita itu dianggap musuh karena kita dianggap kaya, maling uang rakyat. Padahal siapa yang kaya? Listrik aja nunggak. Kalo kaya mah, kita punya genset, nggak gelap-gelapan gini,” ucap Popo (dimainkan oleh Zahiroh). Kiranya ucapan Popo sudah mewakili fakta yang selama ini ditangkap salah dalam persepsi orang-orang. Masyarakat keturunan Tionghoa sebenarnya sama seperti masyarakat Indonesia lainnya. Adegan ini menjadi bentuk ekspresi atas keresahan yang dialami masyarakat keturunan Tionghoa.
Selain itu, ada sedikit rasa mengganjal yang saya rasakan saat menonton babak 2. Konsep kotak yang digunakan di sini menyaru dengan pementasan The Death of the Activist, yang menjadi naskah dominan dalam FTKJ 2026. Dari aktor yang muncul dalam kotak, keluar-masuk kotak berkali-kali, lalu ngumpet dalam kotak, mirip sekali dengan adegan The Death of the Activist. Makna “terkekang” dan “terikat dalam nilai budaya” inilah yang sedikit rancu karena kemiripan dengan pementasan lain.
Saya rasa pementasan yang ditampilkan Tetra MNCU punya potensi untuk memberikan penyegaran dari pementasan-pementasan sebelumnya karena sebagian kelompok tampil membawa beberapa naskah yang sama. Namun, masih banyak hal yang perlu dicatat, terutama aktor dan alur. Nuansa Cap Go Meh yang disuguhkan dari estetika panggung serta pemanfaatan videotron untuk menampilkan latar bergaya Tionghoa sudah tepat, tetapi nuansa percakapan yang dibangun aktor-aktris selama cerita belum terasa intens.
Perdebatan yang ditimbulkan rasanya menguras energi saat menonton dan perlu dikontrol lebih rapi. Selain itu, bagian selingan masih cukup abstrak dan tidak adanya transisi yang kuat membuatnya seperti tidak tersambung. Terlepas dari semua itu, saya apresiasi besar untuk pementasan pertama Tetra MNCU dalam acara FTKJ 2026 yang sudah mengangkat narasi yang penting bagi masyarakat Indonesia.
Penulis: Prudential Cannavaro
Editor: Maysha Yusuf