Logo Lingkar Panggung Lingkar Panggung
Nonton • 2026-09-22

Aktivis itu Mati di Tempat Pembuangan Sampah

Aktivis itu Mati di Tempat Pembuangan Sampah

Aktivis tidak membenci negeri ini. Mereka terlalu cinta. Tapi, apa balasannya? Mereka dianggap "sampah" oleh penguasa. Teater Camuss mencoba bereksperimen dengan naskah "The Death of The Activist" karya Taruna Perkasa Putra.

Saya pernah membaca salah satu tulisan yang begitu menyentuh hati tentang bagaimana rasa cinta tanah air yang sudah ditanamkan sejak dini, disiram hingga tumbuh subur, dan dirawat sedemikian rupa berubah menjadi kekecewaan tatkala pemerintah menjelma pengkhianat atas rakyatnya sendiri. 


Setiap kali persoalan pelik terjadi, sebagian besar masyarakat kita menggelorakan untuk keluar dan berpindah dari negeri ini, lantas seseorang lainnya justru dengan tanpa segan mengusir rakyatnya sendiri sembari meragukan “rasa cinta tanah air” mereka dan membiarkan segala persoalan tak pernah terselesaikan dengan baik. Namun, yang tidak disadari adalah bahwa segala jenis kekecewaan yang ditunjukkan, entah itu melalui media sosial atau yang turun ke jalan, semuanya lahir bukan karena membenci negeri ini, tapi justru karena terlalu mencintai negeri ini. 


Sayangnya, orang-orang besar telah menjadi buta dan tuli karena kekuasaan. Maka, disanalah seorang aktivis lahir dan dibutuhkan demi keadilan. Lantas, bagaimana jadinya apabila aktivis dibunuh, dibungkam, atau bahkan dihilangkan oleh mereka yang berkuasa? Inilah yang dipotret dalam naskah drama garapan Taruna Perkasa Putra dengan tajuk "The Death of The Activist". 


Pada 11 Agustus 2026 lalu, saya menghadiri pementasan The Death of The Activist oleh Teater Camuss yang bertempat di Universitas Assyafi’iyah dalam rangka Festival Teater Kampus Jakarta. Ketika menghadiri pementasan teater, yang muncul dalam pendek pandangan saya adalah bayangan ruangan gelap dengan pendingin suhu rendah dan kursi-kursi yang berjejer rapi serupa tribun bola. Namun, ketiga gong terakhir dibunyikan sebagai tanda permulaan, orang-orang tetap berada di luar ruangan dan lampu-lampu telah dipadamkan. 


Semula saya cukup kebingungan dan bertanya-tanya perihal di mana letak ruangan pentas dilaksanakan, hingga pada detik selanjutnya saya menyadari bahwa pentas dilaksanakan tepat di depan kedua mata saya. Di dalam sepetak ruang tanpa atap yang dinding-dindingnya hanya dipoles dengan semen dan di salah satu sisinya bertuliskan larangan untuk membuang sampah, di situlah semuanya dipentaskan. Beberapa meja telah tersusun rapi mengelilingi petak sempit tersebut, bukan untuk menjamu penonton, melainkan di sanalah tempat penonton harus berdiri selama kurang lebih satu jam untuk menikmati pementasan. 


Ya, pementasan itu dilaksanakan di tempat bekas pembuangan sampah. Mungkin itu masih tempat pembuangan sampah yang dibersihkan seadanya, dan penonton harus menaiki meja sembari berdiri tegak untuk menyimak jalannya cerita hingga akhir demi mendapatkan jawaban tentang bagaimana jika seorang aktivis mati di negeri yang lupa akan keadilan dan kejujuran.


(Foto memasuki pementasan. Foto: Indah Tri Wahyuningrum)


Dalam satu kesempatan singkat, saya bertanya kepada sutradaranya, Nilam Ayu, tentang pemilihan tempat yang tidak biasa ini–setidaknya bagi saya. Selain karena pertimbangan properti, ia mengatakan bahwa sebagai sutradara dirinya ingin menunjukkan sisi aktivis yang seringkali dipandang sebagai “sampah” di mata rezim. Ia juga ingin menunjukkan bagaimana orang-orang seperti mereka pada akhirnya terjebak dan dibuang. Lebih dalam mengulik pementasan ini, saya mendapati bahwa naskah ini sudah pernah pula dibawakan oleh komunitas ini pada generasi yang berbeda. 


Meskipun demikian, Nilam dan kawan-kawannya tidak serta merta menjiplak pementasan sebelumnya, ia berusaha sedemikian rupa untuk memberikan warna lain yang tak kalah apik pada pementasan dengan naskah yang sama. Dari segi aktor, misalnya, Nilam mengambil konsep yang berkebalikan dari pementasan sebelumnya. Apabila pementasan sebelumnya memilih perempuan untuk memerankan tokoh Uma dan laki-laki untuk memerankan tokoh Kodrat, kali ini justru sebaliknya. Hal ini tidak hanya dilakukan sebagai bentuk penyesuaian dengan naskah, tapi juga sebagai usaha untuk membangun suatu efek keterjebakan kepada tokoh Uma. 


Dalam pandangan Nilam, jika tokoh Kodrat diperankan oleh aktris dan karakternya dibuat lebih “gila”, efek keterjebakan pada tokoh Uma akan terasa lebih kuat. Dari sini saya mampu melihat bagaimana keseluruhan konsep sebisa mungkin dipikirkan dengan matang sehingga yang terjadi bukan hanya sekedar mementaskan, tapi juga menghidupkan naskah yang telah ada. 


(Pementasan. Foto: Indah Tri Wahyuningrum)


Meskipun mengetahui apa yang ada di belakang layar, saya tetap tidak bisa menutup mata tentang apa yang terjadi di atas panggung, atau lebih tepatnya yang terjadi di dalam petak kecil itu. Coba bayangkan ketika kalian menonton pementasan dengan berdiri selama satu jam lebih, bohong jika mengatakan tidak capek dan pikiran tidak ke mana-mana. Selain itu, secara sengaja maupun tidak, kondisi sempit juga mampu menciptakan distraksi eksternal yang luar biasa. 


Alih-alih berfokus penuh pada pementasan, saya justru melihat bagaimana penonton lainnya membawa tangga secara mandiri sebab tidak mendapat tempat untuk berdiri, lalu penonton yang satu menghalangi pandangan penonton lain hingga tak tahu apa yang harus dilihat pada pementasan ini, dan ada juga penonton yang begitu sibuk memotret tanpa melihat situasi. Sungguh, saya bisa mengatakan ada beberapa momen yang membuat dunia sekitar terlihat terlalu sibuk untuk menonton pementasan ini. Bahkan, jika hal ini disengaja oleh sang sutradara, saya rasa cukup kurang bijaksana. Namun, saya benar-benar menyukai keberaniannya dalam melakukan eksperimen untuk pementasan ini. 


Yang tidak kalah keren bagi saya adalah para pemainnya. Bukan karena mereka adalah bintang utamanya, tapi bagaimana fokus mereka tetap terjaga selama adegan berlangsung. Dari tiga tokoh lainnya, tokoh Uma yang diperankan oleh Adriansyah adalah tokoh yang paling sering bergerak, atau bisa dikatakan dia satu-satunya yang bisa bergerak. Dalam ruang pergerakan yang sempit, ia kerap kali ditempatkan dalam jarak yang begitu dekat dengan penonton, bahkan tak jarang dirinya juga harus beradu pandang dengan penonton dalam jarak itu. Saya rasa dengan distraksi yang luar biasa dan jarak yang begitu dekat, mempertahankan fokus adalah hal yang cukup berat.

Saya juga senang dengan pilihan dialek Jawa yang dibawakan oleh tokoh Kodrat yang diperankan oleh Linda, tidak terdengar kaku di telinga. Namun, jika boleh jujur, saya begitu menyukai tokoh Kubi yang dimainkan oleh Nofia dan Lubi yang dimainkan oleh Dhiah. Bukan karena saya mendukung kejahatan, tapi karena mereka benar-benar berhasil untuk terlihat gila. Benar-benar gila, maksudnya. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi saya merasa dialog antara Uma dan Kodrat seperti berwarna abu kehitaman, terasa datar dan suram, sementara kegilaan yang dibawa oleh Kubi dan Lubi adalah warna lainnya, warna yang lebih cerah mencolok dan memberi kehidupan. 


(Pementasan. Foto: Indah Tri Wahyuningrum)


Secara keseluruhan, pementasan teater ini menjadi wujud dari keberanian eksperimen terhadap sesuatu yang pernah dilakukan untuk menyajikan perbedaan sekaligus warna lain. Terlepas dari distraksi eksternal, saya rasa Teater Camuss berhasil membawa kebaruan dalam pementasan ini melalui berbagai aspek. Tentu besar harapan saya, mereka akan membawakan naskah keren lainnya dengan eksperimen yang berbeda pada pertunjukan berikutnya!


Penulis: Indah Tri Wahyuningrum

Editor: Hazet


Ingin Membaca Naskah Selengkapnya?

Arsip ulasan dan esai penuh di Lingkar Panggung dapat diakses secara gratis oleh seluruh anggota komunitas terdaftar.

← Kembali ke Beranda
Telah dibaca 40 kali
Tautan berhasil disalin ke papan klip!