Logo Lingkar Panggung Lingkar Panggung
Nonton • 2026-10-03

Tembok yang Tidak Pernah Ada

Tembok yang Tidak Pernah Ada

"Bilai", dalam bahasa Sasak, berarti keadaan sangat miskin. Satu kata yang sudah menutup segala kemungkinan romantisasi, dan sudah cukup untuk menjelaskan dari mana semua kekerasan dalam naskah Mulyadi ini tumbuh dan mengakar. Teater Zat dari Universitas Negeri Jakarta sudah mengambil pilihan dengan caranya.

Lampu dimatikan. Penonton disuruh mencari titik terang dari pementasan yang akan dimulai, barangkali itu juga yang dilakukan Teater Zat sebelum mementaskan Bilai dalam Festival Teater Kampus 2026 (14/8/2026).

Sorot kuning keemasan menyala di kedua sisi panggung, menyingkap sebuah bilik dari anyaman bambu dengan dinding yang menghitam di beberapa sudut. Dua caping menggantung, sebingkai jendela buram menembuskan cahaya tipis. Di lantai, ada dipan panjang, periuk, dan perkakas berserakan seperti ditinggalkan dengan tergesa. Tak ada ornamen berlebih. Semuanya terasa seperti sudah lama di sana sebelum penonton datang.

(Bilai oleh Teater Zat. Foto oleh: Nahda)

Dari dalam bilik itu muncul suara sebelum sosoknya. Azka Arikah, sebagai Tinep, melantunkan kidung.

"Bilai", dalam bahasa Sasak, berarti keadaan sangat miskin. Satu kata yang sudah menutup segala kemungkinan romantisasi, dan sudah cukup untuk menjelaskan dari mana semua kekerasan dalam naskah Mulyadi ini tumbuh dan mengakar. Yang membuat semua kekerasan dalam Bilai begitu rapat adalah tidak ada satu pun jalan keluar yang tersedia dari luar keluarga itu sendiri. Tidak ada layanan kesehatan jiwa yang terjangkau, tidak ada pendamping sosial, tidak ada aparat yang datang memeriksa dari mana asal suara teriakan itu setiap malam. Human Rights Watch pada 2016 mencatat puluhan ribu orang dengan disabilitas psikososial di Indonesia pernah mengalami pasung, bukan karena keluarganya kejam, tapi karena tidak ada yang datang membantu. 


Tinep dirantai di tiang dapur bukan semata-mata karena Nak Kertinep tidak mencintainya. Ia dirantai karena negara tidak hadir, dan cinta seorang ibu yang kelelahan tidak bisa mengisi ketidakhadiran itu sendirian.

Dalam catatan penyutradaraannya, sutradara Bilai memilih pendekatan realis dengan alasan yang sangat sadar: “Penonton harus bisa merasa bahwa ini bisa terjadi di rumah tetangga mereka.” Pilihan itu konsisten dengan apa yang dibangun Mulyadi dalam naskahnya. Tidak ada metafora yang menuntut dekoding intelektual. Hanya keluarga di pinggir hutan dalam kemiskinan yang menahun dan kekerasan yang tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan dari keputusan-keputusan kecil yang sudah tidak punya alternatif lain.

(Bilai, Teater Zat. Foto oleh: Nahda)

Di bagian pertama, Raisya Shelbina sebagai Nak Kertinep meniup tungku yang tidak mau menyala. Di sela itu ia berbicara kepada Tinep, mengusap rambutnya, memperbaiki kerudungnya. Ada momen yang tidak ada dalam naskah tertulis, semacam improvisasi kecil: “Cantik anak ibu,” katanya, ringan sekali. Tapi di tengah semua yang berat, ia mendarat dengan cara yang menyesakkan. Itulah yang dilakukan realisme di atas panggung–membiarkan kasih sayang dan kesengsaraan hadir bersamaan dalam satu gerakan kecil, tanpa musik yang membengkakkan emosi, tanpa pencahayaan yang dramatis.

Sepanjang pertunjukan, Tinep sudah tahu. Teriakan “bawi bakatan” yang berulang bukan igauan orang yang kehilangan akal, ia adalah kesaksian yang tidak punya ruang. Kondisi jiwanya yang dianggap tidak stabil itulah yang membuat tidak ada yang percaya. Nak Kertinep tidak percaya. Kepaq menyayanginya, tapi tidak mengerti. Di luar rumah tidak ada mekanisme yang bisa ditemui. Ini adalah cara kerja yang nyata dan tidak hanya terjadi di atas panggung: kondisi mental seseorang digunakan untuk mendelegitimasi kesaksiannya. Tinep diikat bukan hanya karena “berbahaya”.

(Bilai oleh Teater Zat. Foto oleh: Nahda)

Di atas panggung malam itu, rumah adalah tempat paling berbahaya. Tiang dapur adalah tempat rantai. Kamar adalah ancaman paling besar. Dan satu-satunya ruang yang aman bagi Tinep adalah kidung, suara yang ia keluarkan dari dalam dirinya sendiri, yang tidak bisa diambil siapa pun, bahkan ketika tubuhnya tidak bisa bergerak ke mana pun. Kidung itu hadir di awal, di tengah, di akhir. Tidak peduli apa yang terjadi di antaranya, ia tetap mengalir.

Kami, penonton, menyaksikan cerita tentang perempuan yang tidak punya ruang aman sambil duduk di lantai tanpa batas yang tegas antara kami dan panggung. Tapi, justru ruang yang Teater Zat ciptakan malam itu, di dalam fiksi yang dijaga ketat itu, menjadi satu-satunya momen ketika cerita yang tidak punya tempat di mana pun akhirnya bisa dikatakan keras-keras.

(Bilai oleh Teater Zat. Foto oleh: Nahda)

Di bagian kedua, lampu sorot oranye dari balik-bilik menandakan senja. Wahyu dan Raisya bermain di zona yang keras, tapi tidak pernah kehilangan presisi. Bagian ketiga adalah bagian yang paling susah untuk ditulis dengan kepala dingin. Prinsip Bertolt Brecht percaya bahwa ketika penonton terlalu larut secara emosional, kemampuan mereka untuk berpikir kritis mati. Maka, ia menciptakan Verfremdungseffekt, efek pengasingan, teknik-teknik yang sengaja mengingatkan penonton bahwa mereka sedang menonton pertunjukan, agar mereka tetap awas dan berpikir, tidak sekadar merasakan.

Brecht ingin penonton pulang dalam keadaan berpikir, bukan lega karena sudah menangis. Tapi, aku duduk di belakang dan menyaksikan bahwa tubuh-tubuh itu tidak bisa tidak bereaksi, bukan karena mereka tidak kritis, melainkan karena Bilai memang sedang bicara tentang sesuatu yang sudah tinggal di dalam tubuh mereka jauh sebelum malam itu. 

Data Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2022 mencatat kekerasan seksual dalam ranah privat, termasuk inses, adalah salah satu bentuk kekerasan yang paling sedikit dilaporkan, tetapi paling banyak terjadi. Di pedalaman, angka itu mungkin lebih gelap, korban tidak tahu ke mana melapor, tidak ada jarak yang aman dari pelaku, dan stigma sosial seringkali jatuh lebih keras kepada korban daripada pelakunya.

Dalam versi aslinya, Nak Kertinep dan Tinep ditinggalkan dalam duka tanpa tindakan. Dalam versi Teater Zat, Raisya Shelbina mengangkat parang dengan seluruh sisa tenaganya. Pilihan itu perlu. Tapi, kita juga tahu apa yang akan datang sesudahnya.

Seseorang mungkin akan menyebutnya terlalu feminis. Seseorang akan bilang perempuan dalam kondisi selemah Kertinep tidak akan mampu melakukan itu, bahwa itu tidak realis, bahwa itu agenda. Dan, pada saat yang sama, kalau ending-nya dibiarkan seperti naskah asli, seseorang yang lain akan bilang itu tidak adil bagi perempuan, bahwa teater hanya mereproduksi narasi lama tentang perempuan yang menderita tanpa daya, bahwa cerita seperti itu tidak boleh terus-menerus berakhir dengan perempuan yang meratap.

Betapa sempitnya ruang yang diberikan kepada cerita-cerita tentang perempuan. Tidak berdaya: dianggap mereproduksi viktimisasi. Berdaya: dianggap tidak objektif, terlalu berpihak, politis. Sutradara Teater Zat memilih satu sisi dari lorong sempit itu bukan tanpa risiko. Dan, sekiranya itulah tepatnya mengapa pilihan itu perlu dibuat.

Yang lebih penting dari tindakan itu adalah apa yang datang setelahnya. Untuk pertama kalinya di malam itu, ada suara yang mengatakan kepada Tinep bahwa ia dipercaya. Bahwa bukan dirinya yang kotor. Bahwa orang-orang yang menyakitinyalah, bukan dia, yang hina.

Tinep menangis seperti anak kecil. Kidungnya kembali mengalir. Lampu perlahan padam. Botol-botol air di lantai depan masih berdiri. Bilik anyaman bambu masih berdiri. Caping masih menggantung.

Dinding keempat itu, sepanjang malam tadi, tidak pernah benar-benar ada. Yang ada hanya cerita yang cukup jujur untuk membuat kita lupa bahwa kita sedang menontonnya dan cukup keras untuk membuat kita ingat bahwa di suatu tempat, cerita ini adalah kehidupan seseorang.



Penulis: Dilla Zahrah

Editor: Maysha Yusuf

Ingin Membaca Naskah Selengkapnya?

Arsip ulasan dan esai penuh di Lingkar Panggung dapat diakses secara gratis oleh seluruh anggota komunitas terdaftar.

← Kembali ke Beranda
Telah dibaca 18 kali
Tautan berhasil disalin ke papan klip!