Logo Lingkar Panggung Lingkar Panggung
Nonton • 2026-10-03

Bau Busuk Kekuasaan di Atas Kloset Muara Wangi

Bau Busuk Kekuasaan di Atas Kloset Muara Wangi

Pementasan TIN-JA karya Rano Sumarno di tangan Castra Mardika Universitas Negeri Jakarta dan sutradara Muhammad Ramzy pada 22 Agustus lalu akhirnya berhasil mentransformasikan urusan fisiologis yang teramat tabu dan menjijikkan menjadi sebuah panggung cermin moral yang sangat jernih bagi masyarakat.

“Turun, turun, turun ke bawah! Dorong, dorong, dorong keluar!” 

Nyanyian absurd nan riuh dari barisan warga Kampung Muara Wangi itu tiba-tiba membahana, membelah keheningan ruang pementasan yang semula temaram disinari pendar lampu kebiruan. Di tengah sorot lampu utama yang dingin, tampak Naufal, aktor yang memerankan sosok Sang Bupati, duduk memelas dengan otot-otot leher menegang hebat di atas sebuah kloset WC umum setengah jadi yang belum dialiri air. Wajahnya meringis, mengerahkan seluruh tenaga dalam demi menuntaskan ritual adat “peletakan tinja pertama” yang konyol sekaligus tragis.

Gelak tawa penonton seketika pecah tatkala gestur lemas sang pejabat tak berdaya membendung luapan petaka dari perutnya sendiri. Di samping kloset, Danen yang bermain sebagai Pak Lurah tampil begitu tangkas dan panik; tubuhnya bergerak bolak-balik sembari tetap memaksakan tutur kata berima khas birokrat desa yang kebingungan menutup-nutupi kebobrokan fasilitas umum tersebut. Suasana kian tak terkendali ketika ketiadaan air bilas memaksa para pamong berlarian menuju kali. Untuk mengulur waktu dan menenangkan warga yang mulai geram, Jaki (memerankan Hansip) secara spontan mengambil alih tengah panggung dan merespons ketukan irama sorakan warga dengan aksi breakdance serta gerakan hip-hop yang amat lincah.

Pengadegan yang melompat langsung ke tengah pusaran konflik ini terasa segar, memikat rasa penasaran penonton. Pertunjukan ini tidak meninggalkan penonton sekadar duduk sebagai pengamat yang pasif, melainkan menyeret kesadaran kita untuk langsung menghirup "bau busuk" pertama yang mengepul dari panggung kekuasaan Muara Wangi. 

Dramarturgi naskah TIN-JA karya Rano Sumarno bergerak dalam struktur kelakar politik yang tajam, di mana komedi fisik bertaut rapat dengan sindiran atas dahaga citra pejabat publik. Setelah kejutan pembuka yang langsung melempar penonton ke tengah kekacauan panggung, alur pementasan ditarik mundur melalui kilas balik transisi untuk membongkar akar bencana di Kampung Muara Wangi. 

Kesibukan riuh warga desa yang menyiapkan kedatangan Sang Bupati dipimpin oleh Pak Lurah yang sibuk mengetes mik dan mengatur barisan. Suasana terasa ganjil tatkala Bupati tiba seorang diri tanpa dikawal tim protokoler maupun ajudan. Di atas podium, Bupati menyampaikan pidato berapi-api, mengklaim telah berjuang berdarah-darah hingga menggebrak meja pejabat demi anggaran MCK serta menjanjikan datangnya investor yang akan membuat perekonomian desa meroket. Namun, retorika manis itu mendadak rontok saat pita digunting: bangunan WC umum tersebut kenyataannya belum selesai, saluran pembuangannya belum jadi, dan tak ada air bersih sedikit pun. 

Ketegangan komikal kian memuncak saat acara memasuki agenda utama yang janggal, yakni “peletakan tinja pertama”. Pak Lurah menegaskan adanya tradisi leluhur warga setempat bahwa setiap fasilitas umum baru wajib dicicipi pertama kali oleh pejabat berkedudukan tertinggi. 

Malapetaka sesungguhnya pecah begitu Bupati meminta air untuk membersihkan diri. Hansip dengan polos mengaku tidak menyiapkan air maupun ember, lantaran mengira warga desa terbiasa buang hajat langsung di kali atau menyapu pantat ke daun pisang di kebun. Kepanikan massal tak terelakkan. Pamong desa dan warga terpaksa berlarian menuju muara kali memikul ember kosong.

Namun, ikhtiar pembersihan diri itu justru memicu bencana magis yang mengerikan. Alih-alih meredakan hajat, guyuran air pertama dari kali malah mengundang gumpalan mules luar biasa di perut Sang Bupati. Setiap kali air disiramkan, menceret hebat kembali menyerang berulang-ulang tanpa henti, menciptakan lingkaran setan tanpa muara. Kotoran manusia yang tak kunjung surut meluber keluar dari celah kloset, menebarkan polusi bau busuk menyengat hingga ke pelosok-pelosok desa. Kampung Muara Wangi terancam tenggelam dalam kotoran, memicu gejolak amarah warga yang mulai berkumpul membawa obor dan balok untuk menuntut pengusiran Sang Bupati.

Memasuki larut malam, pertunjukan bergeser ke adegan rapat darurat di samping dinding WC tempat Bupati terkurung lemas. Sekretaris Daerah (dimainkan oleh Maya) tiba bersama seorang Dokter Spesialis (dimainkan oleh Daffa), diawali dengan sindiran tajam Sekda atas nekatnya Bupati menghadiri peresmian tanpa koordinasi protokoler. Dokter Spesialis segera mengeluarkan peralatan medis modern untuk memeriksa kondisi fisik Bupati yang tak berdaya di atas kloset. Namun, sains modern menemui jalan buntu total: tekanan darah dan tanda-tanda vital Bupati dinyatakan sangat normal, tanpa ditemukan kuman atau kelainan medis yang mampu menjelaskan ledakan kotoran sebesar itu.

Kebuntuan sains kedokteran mendadak buyar ketika fajar menyingsing di balai desa, disusul kedatangan dukun sakti Ki Ledeh Kehed yang diperankan secara eksentrik oleh Kamal. Berbeda dengan adegan medis sebelumnya yang kaku, kehadiran Kamal membawa warna teatrikal yang magis sekaligus sarat komedi kritis. Mengamati area WC umum dan pohon beringin di latar panggung dengan mata batinnya yang tajam, Ki Ledeh serta-merta menepok jidat Bupati hingga pingsan seketika. Kamal menegaskan kepada warga dan Sekda bahwa derita perut dan gumpalan kotoran yang tak kunjung berhenti itu bukanlah penderitaan biologis Bupati belaka, melainkan perbuatan roh halus yang sedang merasuki dan mengendalikan tubuh Sang Pejabat.

Pementasan teater Tin-Ja oleh Castra Mardika merupakan peringatan keras bahwasanya kejahatan korupsi dan gratifikasi pejabat publik adalah kotoran yang jauh lebih bau, busuk, dan menjijikkan daripada tinja manusia itu sendiri. (sumber foto: Dilla Zahrah Syawaliani)

Ritual eksorsisme di tengah panggung berjalan sangat menegangkan sekaligus mengocok perut. Naufal, dengan transformasi gestur, vokal, dan raut wajah yang luar biasa, terbangun sebagai sesosok roh kegaiban yang mengaku bernama Abah Nangkarak Blakbak Galakgak, atau yang akrab disapa "Opung". Terjadilah adegan interogasi yang jenaka namun menohok antara Ki Ledeh dan Roh Opung. Dalam dialog tersebut, Opung dengan gaya santai berlogat khas membongkar dua alasan utama mengapa ia murka. Alasan pertama bersifat etika lokal: warga mendirikan bangunan WC persis di samping pohon kediamannya tanpa kulonuwun alias minta izin.

Namun, letupan dramatis sesungguhnya meledak saat Opung membocorkan alasan kedua yang jauh lebih krusial. Roh penunggu pohon itu mengaku mencium bau busuk yang tidak wajar pada seluruh bahan bangunan WC karena dibeli dari hasil uang kotor atau korupsi proyek. Melalui suara Naufal yang kesurupan, naskah karya Rano Sumarno ini memukul kesadaran penonton lewat alegori moral yang sangat menohok: bahwa santet diare abadi itu sengaja ditimpakan kepada Bupati sebagai peringatan keras bahwasanya kejahatan korupsi dan gratifikasi pejabat publik adalah kotoran yang jauh lebih bau, busuk, dan menjijikkan daripada tinja manusia itu sendiri.

Pementasan TIN-JA karya Rano Sumarno di tangan Castra Mardika dan sutradara Muhammad Ramzy pada akhirnya berhasil mentransformasikan urusan fisiologis yang teramat tabu dan menjijikkan menjadi sebuah panggung cermin moral yang sangat jernih bagi masyarakat. Tinja yang merupakan kotoran tubuh manusia yang biasanya disingkirkan, ditutupi, dan dihindari dalam perbincangan wajar, diangkat ke atas pentas bukan sekadar sebagai lelucon komedi slapstik, melainkan diolah menjadi metafora politik yang telanjang dan ampuh. Itu juga sekaligus menyadarkan kita betapa menjijikkannya kelakuan para pejabat yang tega merampok hak publik demi syahwat politik dan kemakmuran pribadi.

Katarsis pertunjukan memuncak saat rompi oranye tahanan KPK dipasangkan pada tubuh Sang Bupati (Naufal), disusul adegan penutup di mana seluruh warga Kampung Muara Wangi bergotong-royong mengambil sapu, ember, dan kain pel untuk membersihkan sisa-sisa kotoran di sekitar MCK. Pembersihan fisik atas kotoran yang meluber itu berkelindan mesra dengan pembersihan moral atas praksis korupsi yang selama ini mengendap di birokrasi lokal. Tindakan gotong-royong warga menjadi simbol kebangkitan kesadaran sipil: untuk mewujudkan tatanan publik yang sehat, warga tidak boleh tinggal diam membiarkan kotoran kekuasaan membusuk di tengah pemukiman mereka.


Penulis: Dilla Zahra

Editor: Maysha Yusuf


Ingin Membaca Naskah Selengkapnya?

Arsip ulasan dan esai penuh di Lingkar Panggung dapat diakses secara gratis oleh seluruh anggota komunitas terdaftar.

← Kembali ke Beranda
Telah dibaca 23 kali
Tautan berhasil disalin ke papan klip!