Di Festival Teater Kampus Jakarta 2026, lima belas kelompok teater dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta diharuskan tampil di kampusnya masing-masing. Skema ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan panjang tentang siapa yang punya panggung dan siapa yang masih harus berjuang sekadar untuk mendapatkan tempat pentas. Persoalan itu paling terlihat ketika kita membayangkan dua kelompok yang sama-sama lolos sebagai finalis. Yang pertama tampil di Amani Palladium Theater, LSPR Transpark Bekasi, sebuah venue dengan fasilitas bertaraf profesional, lengkap dengan tata suara dan tata cahaya yang bisa diatur sedemikian rupa. Yang kedua tampil di lapangan terbuka kampusnya, dengan tata suara seadanya dan panggung yang harus mereka bangun sendiri. Keduanya dinilai oleh dewan juri yang sama dan diukur dengan standar artistik yang sama pula.
LSPR Teatro, kelompok dari Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, ketika mementaskan "Dunia dalam Sepotong Naskah" di Amani Palladium Theater semua aktornya memakai clip-on, termasuk aktor sampingannya. Leveling audio bisa diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada suara yang tumpang tindih. Mereka masuk dalam lima besar untuk enam kategori nominasi, mulai dari Sutradara Terbaik hingga Penata Kostum dan Rias Terbaik. Fasilitas kampus memungkinkan mereka mewujudkan visi artistiknya secara utuh. Keadaan itu jauh berbeda dengan yang dialami Teater Zat dari Universitas Negeri Jakarta. Mereka berjuang dengan masalah tata suara di tempat yang dinilai kurang memadai. Castra Mardika, juga dari UNJ, bahkan terpaksa memilih ruang terbuka karena tidak mendapat akses ke ruang tertutup.
Keresahan tentang kebutuhan ruang pementasan di UNJ sebenarnya bukan hal baru. Ketua komunitas teater Bengkel Sastra dalam laporan LPM Didaktika pernah menyatakan bahwa sudah saatnya UNJ memiliki gedung teater yang memadai, apalagi dengan empat komunitas teater aktif yang bisa menghasilkan empat pementasan setiap tahun. Dosen Prodi Sastra Indonesia UNJ, Irsyad Ridho, menyebut bahwa tanpa gedung pertunjukan yang memadai, mahasiswa kesulitan mengoptimalkan bakat mereka dan peluang eksplorasi seni ke level yang lebih tinggi.
Ketimpangan semacam ini bukan sekadar soal kenyamanan. Ia berdampak langsung pada apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan secara artistik. Teater Epinasti dari Institut Media Digital Emtek, misalnya, mampu membangun tembok rumah semi permanen di panggung, membawa motor Supra asli, bahkan memasang token listrik yang tampak asli. Kemewahan produksi itu hanya mungkin dilakukan di ruang dengan dukungan fasilitas dan dana yang memadai. Sementara itu, Komunitas Ranggon Sastra memainkan naskah yang sama, "Tuhan, Tolong Bunuh Emak," tetapi dengan kualitas tata suara yang minim dan sumber daya yang jauh lebih terbatas.
Dalam sosiologi seni, Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep habitus dan field untuk menjelaskan bagaimana pelaku dalam sebuah bidang seni bernegosiasi dengan struktur yang membatasi mereka. Habitus adalah disposisi (semacam pembawaan) yang terbentuk dari pengalaman dan lingkungan, sementara field adalah ruang sosial tempat pertarungan posisi berlangsung. Dalam konteks FTKJ 2026, kampus adalah field yang menentukan siapa yang punya akses ke ruang apa, dana berapa, dan fasilitas yang mana. Kelompok teater yang tumbuh di kampus dengan fasilitas lengkap akan mengembangkan habitus artistik yang berbeda dengan kelompok yang harus beradaptasi dengan keterbatasan.
Dalam hal ini, keterbatasan memang tidak selalu berarti kehilangan daya artistik. Teater Kafha dari Universitas Paramadina menunjukkan bagaimana kekuatan artistik bisa dimunculkan dari “kesederhanaan”. Mereka dengan sadar memilih kebun kampus sebagai venue. Dalam adegan bupati yang sedang boker, bau yang bisa dicium penonton menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan. Ini adalah eksplorasi ruang yang tidak mungkin terjadi di panggung prosenium konvensional. Tetapi perlu dicatat, apa yang dilakukan Kafha bukanlah siasat bertahan di tengah keterbatasan. Mereka sedang memanfaatkan ruang secara maksimal untuk eksplorasi artistik mereka. Sebaliknya, ada Castra Mardika yang terpaksa tampil di ruang terbuka dan harus berkompromi dengan kualitas tata suara yang jauh dari ideal. Keterpaksaan itu menghasilkan pertunjukan yang secara teknis tidak bisa maksimal. Padahal, secara konsep, bisa jadi ide mereka setara dengan kelompok lain.
Henri Lefebvre dalam The Production of Space berargumen bahwa ruang bukanlah wadah kosong, melainkan produk sosial yang dibentuk oleh praktik dan interaksi. Artinya, panggung teater bukan sekadar tempat pertunjukan berlangsung. Dalam konteks ini, ia adalah hasil dari keputusan politik kampus tentang siapa yang layak mendapat fasilitas dan siapa yang harus mencari sendiri. Ruang yang tersedia atau tidak tersedia memperlihatkan prioritas institusi. Selain fasilitas, birokrasi kampus juga turut menentukan keberlangsungan teater kampus. Bagaimana kampus menyediakan sarana dan prasarana serta mencukupi dana menjadi faktor penentu apakah sebuah kelompok teater bisa bertahan atau tidak. Dana untuk teater kampus dari universitas biasanya sangat terbatas, dan kelompok sering kali harus menggalang dana sendiri melalui sponsor dan merchandise. Atau kalau tidak, minimal melalui urunan dan danusan.
Dukungan kampus memang tidak selalu berbentuk fasilitas mewah. Greta Mulyosantoso, Kepala Departemen Kemahasiswaan LSPR Institute, mendorong LSPR Teatro untuk berani membawa karya mereka ke ruang kompetisi. Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah kelompok teater lain, melainkan keraguan di dalam diri anggota sendiri. Dukungan moral dan dorongan institusional menjadi faktor penting di balik keberhasilan mereka. Namun, tidak semua kampus memberikan dukungan yang sama. Teater Syahid UIN Jakarta, misalnya, lahir dari keresahan mahasiswa yang belum memiliki ruang kesenian di lingkungan kampus pada 1988. Dari keresahan itu, para senior menggagas sebuah ruang agar mahasiswa tetap memiliki tempat untuk berkesenian dan mengembangkan minat di bidang seni pertunjukan. Kini Teater Syahid menjadi UKM yang aktif berproduksi, bahkan menambah jumlah produksi dari dua menjadi tiga dalam satu periode kepengurusan.
Perbedaan dukungan semacam itu menciptakan ekosistem yang tidak setara. Ada kelompok yang bisa fokus pada eksplorasi artistik karena fasilitas dan dana sudah tersedia. Ada kelompok yang harus menghabiskan energi untuk mencari dana, membangun panggung sendiri, dan bernegosiasi dengan birokrasi kampus hanya untuk mendapat izin berpentas. Ketimpangan ini lalu terbawa ke dalam Festival Teater Kampus Jakarta 2026, yang melibatkan 21 perguruan tinggi dalam proses seleksi awal dan menghadirkan 15 finalis. Setiap kelompok mendapat pendampingan mentor sebanyak lima kali pertemuan. Ini menunjukkan bahwa festival tidak sekadar menjadi kompetisi, melainkan juga ruang pembelajaran. Namun, ruang belajar itu, ya itu tadi, tidak setara. Kelompok yang tampil di auditorium dengan tata suara memadai bisa belajar tentang bagaimana memaksimalkan potensi akustik ruangan. Kelompok yang tampil di lapangan terbuka belajar tentang bertahan hidup dengan tata suara seadanya. Keduanya adalah pelajaran berharga, tetapi hanya satu yang relevan dengan standar profesional yang mungkin mereka hadapi di dunia seni pertunjukan setelah lulus.
Meski begitu, kita harus tetap ingat bahwa Festival Teater Kampus Jakarta tetap punya tujuan mulia untuk membangkitkan geliat teater di kampus-kampus Jakarta. Dengan menggelar pertunjukan di kampus masing-masing, festival berusaha mendekatkan teater kepada ekosistemnya. Penonton yang hadir adalah mahasiswa kampus itu sendiri, teman sekelas, dosen, dan staf administrasi yang mungkin belum pernah menonton teater sebelumnya. Teater Tema dari Universitas Gunadarma, misalnya, membawa konsep Teater Forum, di mana aduan tentang fasilitas kampus benar-benar datang dari penonton, bukan bagian dari naskah. Ini adalah momen di mana teater kampus menjadi ruang dialog tentang persoalan nyata yang mereka hadapi. Penonton tidak sekadar menonton pertunjukan. Mereka menjadi bagian dari percakapan tentang kampus mereka sendiri.
Pada akhirnya, Festival Teater Kampus Jakarta 2026 menunjukkan bahwa teater kampus masih hidup dan bergeliat. Lima belas kelompok dari berbagai kampus di Jakarta berhasil memproduksi pertunjukan meskipun dengan tingkat dukungan yang berbeda-beda. Ini adalah pencapaian yang tidak bisa diremehkan. Namun, geliat ini tidak bisa bertahan lama tanpa perubahan struktural. Ketimpangan fasilitas dan dukungan antar kampus menciptakan kondisi di mana hanya kelompok yang beruntung yang bisa tampil maksimal. Kelompok lain harus berjuang lebih keras hanya untuk mencapai standar yang sama.
Di sinilah Festival Teater Kampus Jakarta bisa menjadi katalis untuk perubahan. Dengan mempertemukan kelompok-kelompok dari berbagai kampus, festival ini menciptakan kesadaran bahwa ketimpangan yang mereka hadapi bukanlah masalah individual, melainkan masalah struktural. Ketika Teater Zat berjuang dengan tata suara yang buruk, sementara LSPR Teatro menikmati fasilitas lengkap, itu bukan karena yang satu lebih berbakat dari yang lain, tetapi karena kampus mereka memprioritaskan hal yang berbeda.
Festival juga bisa menjadi ruang advokasi. Ketika pertunjukan digelar di kampus masing-masing, dosen dan pemimpin/pengelola kampus menjadi saksi langsung dari apa yang bisa dicapai oleh mahasiswa mereka jika diberi dukungan yang memadai. Malam Anugerah di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, menjadi momen di mana pencapaian mahasiswa diakui di panggung nasional. Ini adalah argumen kuat untuk mengajukan anggaran yang lebih besar bagi fasilitas seni di kampus.
Festival Teater Kampus Jakarta 2026 adalah potret dari apa yang sudah dicapai dan apa yang masih perlu diperjuangkan. Teater kampus bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah ruang tempat mahasiswa belajar tentang kerja kolektif, disiplin, kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan. Ia juga adalah ruang tempat mereka berhadapan dengan realitas ketimpangan dan belajar untuk menavigasinya.
Jika panggung adalah cermin, maka Festival Teater Kampus Jakarta 2026 telah memperlihatkan wajah kampus-kampus Jakarta yang beragam. Ada yang sudah memberi tempat yang layak untuk seni. Ada yang masih harus berjuang. Ada yang memilih berkebun karena itu adalah panggung terbaik yang bisa mereka dapatkan. Ada yang memilih berkebun karena itu adalah pernyataan artistik.
Di antara semua perbedaan itu, teater kampus tetap tumbuh. Pertanyaannya sekarang, seberapa lama ia bisa terus tumbuh sebelum akarnya bertemu dengan tanah yang terlalu keras dan tak bisa ditembus lagi?
Penulis: Hidayat Adhiningrat
Editor: Hazet