Tahun lalu, pergerakan Festival Teater Kampus (FTK) mandek. Kalau lu tanya orang-orang di skena ini apa alasannya, jawaban template-nya ya pasti urusan dompet: anggaran seret. Tapi Yustiansyah melihat hal lain. Duit, katanya, cuma urusan nomor lima atau tiga. Nomor satunya justru pertanyaan yang bikin kita kikuk: lo mau nggak?
FTK sendiri adalah hajatannya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Posisinya ibarat adik bontot dari Festival Teater Jakarta, kompetisi tertua di Indonesia yang udah eksis sejak 1973. Sebagai perbandingan, FTK baru berumur lima tahun. Edisi 2024-nya sempat mempertemukan 12 teater kampus di Gedung Wayang Orang Bharata, hasil collab dengan Dinas Kebudayaan, Teater Petra, dan Teater Katak UMN. Tapi tahun ini polanya dirombak. Kepanitiaan nggak lagi diserahin ke mahasiswa. Kenapa? Karena sistem “arisan”-nya hancur; yang menang tahun lalu nyerah dikasih tanggung jawab jadi panitia tahun ini (lagi). Walhasil, seniman-seniman muda alumni teater kampus ditarik turun gunung untuk ngambil alih setir, lengkap dengan lima mentor yang diutus keliling mendampingi kampus peserta.
Di tengah chaos manajerial inilah nama Yustiansyah Lesmana–akrab dipanggil Tian–hadir. Ia ketua Komite Teater DKJ periode 2026–2029, dan di FTK tahun ini memegang posisi yang krusial, sebagai supervisor. Tapi Tian bukan sembarang birokrat. Jauh sebelum ia duduk di kursi DKJ, ia sudah lebih dulu menyelam di ekosistem yang sekarang ia kritik. Ia sempat di Teater Ghanta Universitas Nasional, menyutradarai lakon Jakarta Karikatur yang tembus FTJ 2012, dan puncaknya, dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik FTJ 2014 lewat Likukuliku. Jadi, ketika ia bilang anak teater kampus hari ini keasyikan hidup di dalam bubble sterilnya sendiri, ia tahu persis apa yang ia bicarakan. Ia sedang menguliti rumah lamanya.
Selasa, 9 Juni 2026, Fadil Ardian–salah satu penulis Lingkar Panggung–menemuinya di kantor DKJ. Rencana awalnya hanya sekadar catch-up dan memintanya napak tilas perjalanan teaternya. Tapi, obrolan satu jam itu meliar ke mana-mana. Dari sentilan soal fluktuasi dolar yang udah sampai 18.200 rupiah, kepanitiaan yang macet, malasnya kampus saling pinjam tools (level, lampu, kain hitam), batas tipis antara daya saing dan saingan, sampai celetukan sarkas kalau anak kampus mungkin butuh dikasih MBG (Makan Bergizi Gratis) juga saking manjanya.
Ia beberapa kali bilang tidak mau menggeneralisir. Tapi, ia juga tidak menahan kata-katanya, dan beberapa kalimatnya bakal terasa pedes buat anak teater kampus yang membaca ini. Kami biarkan apa adanya. Ejaan dibenahi seperlunya, selebihnya gue-lu, juga cengengesannya, beserta lompatan-lompatan percakapan bergaya informal. Have a nice seat and enjoy the talk!
***
Fadil: Sebelom Abang jadi komite teater kayak sekarang, mungkin perjalanan nggak singkatlah, mungkin boleh diceritain dulu, Bang. Mungkin dulu perjalanan teaternya gimana gitu, mungkin pernah join teater kampuskah?
Yustiansyah: Join Teater Ghanta dari 2003, tapi sekarang udah di luar kampus.
Fadil: Pas perjalanan teater Abang tuh, momen yang paling monumental tuh kapan, yang jadi titik balik.
Yustiansyah: Wah, berat pertanyaannya. Kapan ya? Gue sampe sekarang masih bingung. Iya soalnya nggak jelas. Tapi, semuanya titik balik ‘kan. Tapi intinya gue gabung di kampus dulu Teater Ghanta, Unas (Universitas Nasional). Titik balik itu ‘kan fluktuatif ya kadang-kadang. Ada momen pede sama teater, sekarang nggak pede lagi, dolar 18.200.
Fadil: Efek naiknya dolar ke teater apa tuh?
Yustiansyah: Susah pentas. Nggak ada subsidi, nggak ada program. Jadi fluktuatif. Kalo bicaranya mental, titik balik itu nggak pernah tetap. Karena kita ‘kan me-restart dan me-refresh. Kita punya ekspektasi, jadi harus terus refresh.
Fadil: Dulu kan Abang pernah join Teater Ghanta. Abang gimana sih ngelihatnya kalo teater kampus dulu sama teater kampus yang sekarang. Mungkin ada yang berubahkah ekosistemnya, apa gimana?
Yustiansyah: Sama aja kayaknya ya. Karena positioningnya kan selalu stagnan ya, selalu regenerasi, nggak tetap. Kadang karena sifatnya yang kayak gitu, orientasinya selalu pendek. Nggak pernah punya orientasi panjang gitu. Karena tiap tiga tahun, empat tahun, lima tahun orangnya ganti. Jadinya orientasinya berubah. Jadi dia sepenuhnya wadah untuk capacity building aja sebenernya. Orang punya minat, hobi berkesenian, seni pertunjukan, teater, di situlah tempatnya dia untuk mengasah capacity building. Entah itu jadi aktor, sutradara, penata musik, tahapnya sangat edukasional, bahkan mungkin pra-entry level gitu. Mengenali, apresiasi.
Kalo teater SMA itu full apresiasi aja terhadap drama, terhadap teater, terhadap panggung. Kasarnya, kalo zaman SMA, main teater aja udah syukur. Kalo mahasiswa, sebenernya apa yang dibikin sudah mulai ada peran-peran kognitif yang bekerjalah. Mencari naskah sendiri, mulai mengatur tata kelola sendiri, meskipun modelnya model historis ya kadang-kadang.
Model historis tuh apa yang udah diajarin senior terus turun-temurun. Jarang orang atau generasi di kampus yang punya keberanian untuk, katakanlah, membuat sesuatu yang baru dari apa yang pernah diajarin sama senior. Jadi ada logika yang repetitif gitu. Cuma orang-orang tertentu yang mungkin punya kecenderungan kesenian yang kuat, dia akhirnya mendobrak ruang-ruang repetitif.
Fadil: Berarti kalo udah di level itu, ada tuntutan kreativitas?
Yustiansyah: Y,a tentu ya. Namanya juga mahasiswa. Ruang-ruang kognitifnya lebih diaktivasi dibanding SMA. SMA ‘kan lebih nurut aja kata pelatih. Kalo mahasiswa ‘kan lebih punya ruang untuk mikir sendiri, bertanya kritis, dan punya rujukan pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Seharusnya! Meskipun juga banyak teater-teater kampus yang bebek gitu ya.
Fadil: Ngomongin tadi, minimnya subsidi ke teater, efeknya ke Festival Teater Kampus gimana?
Yustiansyah: Dulu nggak ada sama sekali. Ini tahun kedua mereka didukung sama pemerintah kota. Tahun lalu didukung. Mudah-mudahan dukungannya lancar dalam situasi ekonomi sekarang tuh menimbulkan efisiensi anggaran. Semoga juga dukungannya memang punya motif berkelanjutan. Mereka semoga paham bahwa mendukung FTK itu sebenernya juga long term untuk masa depan teater.
Karena kampus itu ‘kan garda depannya teater gitu ya. Meskipun seleksi alamnya juga ketat. Nggak semua orang yang terlibat ikutan teater kampus juga akan jadi seniman teater yang mandiri, progresif. Itu yang membentuk dirinya sendiri, bukan ikut-ikutan, atau mudah dibentuk sama orang lain di luar dirinya, yaitu senior.
Fadil: Ada bentuk support lain dari Dewan Kesenian Jakarta, selain jadi wadah?
Yustiansyah: Yang mengadvokasi penganggaran di Satuan Kerja Perangkat Daerah. ‘Kan yang secara moral membentuk tim, panitia, itu ‘kan DKJ semua. Kemudian secara historis juga beberapa orang di komite teater yang dulunya praktisi teater kampus juga punya tanggung jawab historis. Bukan cuma mengawal, tapi untuk berbagi pengalaman.
Fadil: Tapi, FTK sempet ada masa pasifnya nggak sih, Bang?
Yustiansyah: Apa yang dimaksud FTK nih karena ‘kan FTK baru lima tahun? Sekarang panitianya bukan lagi teater kampus, tapi tenaga ahli, seniman muda yang juga berangkat dulunya dari kampus. Sebelumnya modelnya arisan, tapi sebenernya nggak jalan, dengan catatan ya. Yang menang jadi panitia, tapi yang menang itu nggak ngerjain, nggak tanggung jawab. Sebenarnya teater kampus sendiri untuk mengelola dirinya sendiri itu perlu dipertanyakan.
Kita misalkan bahwa ekosistem teater di kampus ini perlu dikasih ruang. Tapi ketika dikasih ruang, dengan model mengelola sendiri, merekanya nggak komitmen dan konsisten sama ruang itu. Misalkan, ini ada ruang, DKJ bisa memfasilitasi ruang, misalkan di Taman Ismail Marzuki, kalian bentuk panitia. Nanti ada aturan main bahwa yang menang di setiap tahun festival, tahun depannya akan jadi panitia. Nah, itu sudah beberapa kali, yang menang dan harus jadi panitia itu ternyata tidak siap.
Ketika dia tidak siap ‘kan sebenernya akan mengganggu ekosistem teater kampus yang lain ya. Harusnya mereka bisa terlibat. Karena yang menang tidak siap melaksanakan, jadinya ke-hold, jadi perlu didorong-dorong terus.
Sementara levelnya sudah mahasiswa ya. Ketika dikasih ruang nggak dipikirin. Lu pada mau ngapain? Lu pada mau ke mana? Ya ‘kan? Harusnya ‘kan bisa dong merumuskan itu, dirinya sendiri membuat arah, planning. Misal, kami mau begini, itu ‘kan oke. Gitu mahasiswa. Kalo maunya disuapin terus, oh ya udah. Karena nggak jalan yang tahun kemarin, kita memanggil temen-temen seniman muda yang punya background teater kampus untuk merumuskan FTK ini. Ini akan diuji tahun ini.
Fadil: FTK tahun kemarin nggak ada karena kurangnya inisiatif teater kampus atau ada faktor lain?
Yustiansyah: Itu iya, kalo kita bicara duit. Itu kalo gue sendiri, duit nomor lima atau tigalah. Yang pertama tuh kemauan dulu. Lo mau nggak? Karena kalo kemauan itu artinya goals, ada tujuan. Karena kalo nomor satu duit, nggak punya tujuan juga. Misal, logika programming, nomor satu tuh goals. Nah, setelah tujuan tuh apa? Visibilitasnya. Mungkin atau enggak? Yang ditimbang tuh apa? Resource ‘kan. Sumber daya waktu. Oh, waktunya cuman dua bulan, tujuan kita begini, sumber daya orangnya begini. Semuanya diitung, baru duit. Karena logika duit bisa dipecah lagi ‘kan. High-medium-low lah. Kita bisa dengan resource segini, dengan duit paling minim segini, dan konsepnya segini.
Karena kita bisa aktivasi resource ‘kan, modal sosial. Karena temen-temen teater kampus ‘kan punya tools: punya lampu, punya level, punya kain hitam banyak. Jadi, kalo mereka gabungin tools mereka tuh bisa saling pinjem. ‘Kan aula juga mereka bisa pinjem-pinjeman kalo ada teater yang nggak punya aula. Bahkan, aktivasi untuk tukaran penonton aja tuh mereka bisa. Nah, kesadaran untuk melihat potensi dan resource yang mereka miliki itu, gimana ya cara mereka ngelihat itu. Sebenernya mereka punya modalitas yang gede, tinggal punya kemauan atau nggak.
Kalo selamanya bergantung hidup sama seseorang atau pemerintah, itu bukan satu mental yang oke. Jadi, nggak perlu berharap sama sesuatu yang juga terus nggak tetap gitu loh. Kemauan dan tujuan itu ‘kan selalu bisa direvisi ‘kan, selama konsolidasi dan koordinasi temen-temen kampus tuh konkrit.
Ya, nggak harus nunggu disebut kompak, itu kan nggak harus nunggu 50 teater kampus yang di Jakarta ngumpul gitu. Ya, kalo ada 15 atau 8 kampus dan bisa membuat pikiran-pikiran yang punya goals, itu akan memengaruhi yang lain ‘kan. Itu yang perlu di-inject dari luar tuh. Level mahasiswa harusnya lebih aktivasi critical cognitive tuh, harusnya jalan setelah simulasi awal.
Ini yang jangan-jangan, Gue punya kecurigaan, teater kampus juga asyik di dalam dunia kecilnya sendiri gitu, yang seolah-olah steril, nggak terganggu dari dunia luar, asyik sendiri bahkan lupa waktu, lupa jaringan. Mereka lupa bahwa kesenian itu knowledge, pengetahuan, yang universitasnya banyak profesornya. Kalau kita sendiri nggak up-date sama pengetahuan ya udah, jalan di tempat, mandeg.
Fadil: Kalo dulu ‘kan dengan sistem arisan gitu panitianya. Tahun sekarang ya ditarik-tarikin orang-orang yang dulu aktif teater. Abang ngelihat persiapan tahun ini gimana?
Yustiansyah: Secara rumusan sih oke ya harusnya. Misalnya, mereka bikin pendampingan, bikin modul. Sekarang ada 5 mentor yang keliling gitu, berarti tiap mentor dapet 3 kampus gitu. Nah, itu aja kalo denger keluhannya, itu tuh nggak jalan atau sebagian nggak jalan. Misalkan, pendampingan ngirim jadwal latihan tuh ke mentor, seringkali mereka tidak latihan sesuai jadwal mereka sendiri. Jadi mereka sendiri sebenernya kayak punya cara proses yang beda-beda sebagai satu entitas teater yang ada di ruang akademis yang harusnya terstruktur.
Ini ‘kan juga penyakit yang ada di dalam kesenian. Kita yang menganggap seolah-olah kesenian itu bebas. Tapi, kalo kita menyikapi kesenian sebagai ruang bebas-bebas aja, udah bebas aja. Bebas dalam pengertian gini, lu nggak ngapa-ngapain ya lu nggak jadi apa-apa gitu. Tapi, kalo kebebasan itu justru diolah jadi sesuatu yang kreatif, maka konsep atas kebebasan itu juga jalan.
Menerjemahkan apa yang disebut ide ke dalam satu bentuk jadi itu ‘kan bukan seperti main sulap ya, bukan tiba-tiba ada gitu, tiba-tiba bagus. Ide yang abstrak, abstraksi itu yang sifatnya abstrak harus dikonversi jadi nilai material, artinya tangible gitu ya, bisa dilihat, bisa dirasain, bahkan bisa disentuh gitu, misal konteksnya seni rupa. Itu ‘kan perlu metode, gimana mengkonversi sesuatu yang abstrak, ide itu sendiri, ke sesuatu yang sifatnya bentuk. Nah, itu nggak ujug-ujug main sulap, nggak ngandelin inspirasi doang. Itu ‘kan metode yang biasanya lekat dengan unsur-unsur teknik dan teknis. Kalo urusannya teknik dan teknis, itu urusannya ‘kan skill. Jadi, kalo jadi seniman malas latihan, malas mempelajari ragam metode, harus pakai teorinya siapa, dalam sejarah seni itu sendiri, ya bisa dipastikan dia juga nggak tahu apa yang sedang dia lakukan sebagai seniman.
Fadil: Kalo menurut Abang sendiri, kenapa teater-teater kampus terlalu nyaman dengan bubble-nya masing-masing?
Yustiansyah: Satu ya tadi, karena mereka ngebangun border, bangun ruang tertutup, nggak open wide, sementara mereka hidup dalam satu konteks kebudayaan masyarakat yang semakin open wide, semakin terbuka. Jadi, dunia udah semakin kebuka, tapi ada semacam gelagat dalam sektor-sektor kecil komunitas yang menutup dirinya. Menutup dirinya artinya tidak bersikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan yang ada.
Dan, sikap itu ketika dia tanpa sadar dikelola, dia akan jadi kultur. Ketika jadi kultur, mungkin akan mengkristal. Nah, kalo udah jadi kristal itu yang kategorinya penyakit kebudayaan. Karena bisa jadi ngelihat orang lain jelek, ngelihat orang lain musuh. Melihat diri kita pasti jauh lebih bagus daripada orang lain, karya kita lebih bagus. Nah, itu ‘kan ada dinding besar yang membuat kita harus menutup kemungkinan bahwa orang lain juga melakukan hal yang sama dengan kita. Kenapa kita nggak ambil pelajaran. Bubble mesti dipecahkan. Salah satunya dengan membuka diri, berkolaborasi gitu ya, sehingga kita tuh melihat orang lain bukan cuma sekadar bubble. Tapi, ngelihat orang lain juga sebagai seniman, bukan entitas komunitas. Oh, dia anak selatan, dia anak pusat, gue anak timur. Jadi, kategorisasi-kategorisasi penamaan yang mengotak-ngotakkan yang pada akhirnya jadi bubble itu sendiri.
Apalagi ada di ekosistem yang sama, rivalitas jadi muncul ketika pengkotak-kotakan. Ya, mungkin wajar ya menang FTK orang bersorak-sorak euforia gitu, di saat yang sama mungkin juga dia tidak sadar bahwa ada orang yang juga kalah di situ. Kemudian, mereka tidak bisa mengukur volume etisnya gitu. Seberapa jauh gua harus bereuforia karena juga ada orang yang kalah. Terus apakah kemudian ketika lu menang, kita jadi orang yang hebat dalam kesenian? ‘Kan nggak bisa diukur secara tetap dan tunggal karena seni yang sifatnya kreativitas ‘kan selalu tidak berlaku surut.
Hari ini kita bisa bikin karya bagus, mungkin tahun depan kita belum tentu bisa bikin karya bagus. Itu gimana lu bikin prosesnya, gimana lu konsisten dan disiplin, dan punya kemauan serius. Oke, bagus. Tapi, ‘kan itu kita bisa berpegang ke kausalitas ajalah, sebab-akibat yang paling sederhana. Kalo lu sungguh-sungguh ya lo pasti akan mendapat hasil yang baik. Mau ujian, ya lu belajarnya siang-pagi-sore. Kalo belajar, ya lu nggak mungkin dapet nilai di bawah 8. Tapi, lu belajar cuma 3? Energi, fokus, konsentrasi yang dialokasi untuk dapet nilai 8 terus cuma 3, itu ya nggak akan dapet.
Fadil: Masalah pengkotak-kotakan itu masih terjadi nggak di FTK sekarang, ‘kan mereka udah dikumpulkan dalam satu wadah?
Yustiansyah: Jebakannya ada. Misal, formatnya adalah perlombaan, menang dan kalah, terbaik dan tidak terbaik. Tergantung paradigma orang melihat itu. Kalo yang menang merasa di atas dari yang kalah, jebakan pengkotak-kotakan ada, jebakan rivalitas itu ada. Daya saing itu penting, tapi saingan itu ‘kan hal yang beda. Tapi, kita jangan merawat saingan karena kita akan cuma fokus sama orang lain kalo yang dipikirnya saingan. Tapi, kalo daya saing yang kita pikirkan sebenernya seberapa jauh kita menguasai teknik, fokusnya tadi capacity building untuk punya daya saing.
Kalo lu kalah, ya harus akui karya orang lain bagus, makanya nonton. Udah kalah, nggak nonton karya orang lain. Terus marah. Gimana lu bisa menilai itu. Iya ‘kan? (dengan nada cengengesan). Menganggap dirinya paling benar. Itu karena pengkotak-kotakan tadi. Nggak bisa melihat sesuatu di luar diri. Sekarang mereka mau nggak melihat ke dalam diri sebagai forum yang entitasnya banyak banget. Ya mereka harus pikirin, mereka punya problem internal di kampusnya masing masing, entah itu soal regenerasi, capaian estetika, dan macem-macem. Di konteks yang lebih luas, mereka mau nggak juga secara kolektif menyadari bahwa mereka juga bisa jadi teman.
Fadil: Agak susah juga ya dibenahi soal pengkotak-kotakan dan sikap males itu, kecuali memang si kelompok teater itu berubah.
Yustiansyah: Ya, gue nggak menggeneralisir, tapi itu biasanya penyakit yang ada di teater kampus. Gue tidak ingin menggeneralisir, tapi biasanya itu penyakit yang berkutat, repetitif. Tapi, mungkin juga banyak teater kampus yang menyadari situasinya. Selalu ada teater kampus yang berhasil keluar dari situasi ini. Jadi, nggak semua kayak gitu. Jangan-jangan kelompok teater yang ikut FTK, berhasil juga mengidentifikasi dirinya bahwa harus coba keluar dari penyakit teater kampus gitu ya. Ikut FTK itu upaya untuk meretas ruang kotak itu ya.
Tinggal mereka punya niatan dan motivasi, itu mental juga bisa diubah gitu ya. Bukan cuma sekadar lomba untuk membuktikan siapa yang paling baik dari semua teater kampus, tapi justru kesempatan untuk mendefinisikan ulang apa itu teater kampus, membahasakan sendiri apa itu teater kampus, mendekolonisasi semua hegemoni yang pernah ada, doktrin atas teater kampus itu sendiri. Mereka punya kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan mereka sendiri. Sehingga, kalau kita bisa mendorong iklim yang kayak gitu, maka masa depan teater juga jadi lebih oke. Karena lagi-lagi, teater itu garda depan generasi teater Indonesia ke depannya. Ya ambisinya gede gitu ya, keberaniannya besar, tapi pikirannya belum terlalu panjang. Jad,i modal berani kadang-kadang juga penting, dan diperlukan, ambisi juga sangat penting dan diperlukan. Nggak apa-apa, itu juga cukup sebenernya, tapi harus siap gagal dan menerima kegagalan itu sebagai satu daya tumbuh. Anak muda yang berani dan punya ambisi, harus siap gagal.
Fadil: Mungkin ketika teater-teater kampus berhasil keluar dari masalah-masalah tadi, yang menjadi tantangan adalah konsistensinya, Bang, yang perlu dijaga. Mungkin ada cara-cara tersendiri dari DKJ supaya iklim itu terjaga.
Yustiansyah: Hal yang harus disadari sama temen-temen teater kampus adalah kampusnya sendiri. FTK itu jangan dijadikan barometer capaian yang serius. FTK itu apresiasi lebih jauh aja, temen-temen melakukan upaya aktualisasi di publik yang lebih luas, baik publik kampus yang lebih luas ataupun publik seniman yang lebih luas, karena di sana ada juri, ada mentor, segala macem. Jadi, itu upaya aktualisasi yang lebih jauh saja. Bahwa kemudian terjadi dialog dan progresif, berkembang segala macem pengetahuan baru, ya itu jelas otomatis terjadi.
Tapi, hal yang paling penting adalah kesadaran mereka karena FTK ‘kan itu cuman terjadi setahun sekali, nggak sepanjang tahun. Sementara mereka sepanjang tahun ada di dalam kampus. Jadi, kesadaran yang paling utama adalah mereka memposisikan dirinya di kampus ya. Memposisikan dirinya di kampus itu ya tadi, mem-branding dirinya dalam kampus, mengelola dirinya dengan kampus, membangun penonton yang di dalam kampus, gitu. Bikin modul dan kurikulum regenerasi yang oke, standarnya kayak gimana, membuat prestasi buat kampusnya sendiri sehingga sebagai salah satu entitas di civitas kampus, dia punya bargaining. Bukan cuman organisasi intra-kampus yang ya ada aja, ada orangnya gitu, tapi nggak punya program. Ya, itu tadi, punya punya tujuan. Tujuan itu penting. Tujuan-tujuannya baiknya ada yang panjang dan pendek. Jangka panjang yang ideal meskipun dia bisa direvisi dan direvisi setiap 5 tahun. Tujuan jangka pendek itu ‘kan lu cuman kuliah 4 tahun, apa yang paling possible dan make sense selama lu jadi mahasiswa. Dengan catatan ketersediaan waktu masing-masing orang.
Kegiatan produksi juga penting, itu harus ditimbang persis. Dari zaman ‘60-an dan ‘70-an tuh selalu ada logika kompromi yang sama soalnya atas sebuah karya yang dianggap tidak bagus. Biasanya yang disalah-salahin tuh aktornya nggak komitmen nih latihannya, dana produksinya kecil. Muter aja alesannya itu. Tapi, ‘kan gimana caranya dari kenyataan produksi yang ada lu bisa bikin karya yang bagus. Anggota kita cuman ada 4, gimana lu bikin karya yang bagus dari 4 orang, dengan ketersediaan waktu latihan yang sekian. Itu semua dilihat sebagai resource itu tadi, sumber daya yang harus kita olah kayak gimana dengan barang yang tersedia dan material yang ada. Nyadarin apa itu modal tuh penting, termasuk kalau orang cuma bisa latihan seminggu sekali.
Tapi, kalo lu paksa orang harus latihan tiap hari (dengan nada memerintah)?! Hari gini, orientasi orang tuh macem-macem. Teater musuhnya mungkin kafe, warung kopi. Ya, lebih baik nongkrong di warung kopi sambil baca buku dan main gamebot atau apa gitu, atau nulis, dibanding main teater tapi dimarah-marahin terus, misalkan. Teater perlu mengubah cara mendidik, jangan sampai anggapannya yang keras itu yang mengubah mental.
Fadil: Terakhir nih, Bang. Apa harapan Abang soal teater kampus ini sendiri?
Yustiansyah: Tadi. Gue berharap sebenernya mereka bisa sampai pada fase menyadari modalitas dan nilai yang mereka punya, dan kesadaran itu diturunkan dari generasi ke generasi. Jadi, perlu generasi yang kritis, generasi yang solid, dan mau bersikap kolektif. Kalo pikirannya teritorial, misalnya teater kampus Jakarta gitu, butuh generasi yang solid dan kolektif yang mau kritis untuk merumuskan sebenernya apa itu teater kampus, lalu juga menyadari modalitasnya, nilainya, dan kemudian dari sana bikin modul kurikulum, bikin visi, dan sampai gimana ini diturunkan secara organik.
Mungkin kampus harus dikasih MBG (Makan Bergizi Gratis) juga kali ya. Bukannya bermaksud komparatif ya, tapi anak-anak di Barat atau di Singapura sama anak kampus di sini setara kognitif berpikirnya dan paradigma struktur berpikir itu sama.
***
Catatan: Wawancara ini dilakukan sebelum FTKJ itu sendiri berlangsung dan Acara Malam Anugerah FTKJ 2026 sudah digelar Rabu, 26 Agustus 2026 yang lalu, di Teater Kecil TIM. Artinya, kalimat Yustiansyah tentang model panitia baru FTKJ akan diuji di tahun ini kini sudah bisa kita nilai bersama-sama seberapa jauh keberhasilannya.
Penulis: Fadil B. Ardian
Editor: Maysha Yusuf