Logo Lingkar Panggung Lingkar Panggung
Nonton • 2026-10-15

Don Quixote Melawan yang Tak Bisa Ditebas

Don Quixote Melawan yang Tak Bisa Ditebas

Ada pula pertanyaan yang sulit saya singkirkan. Bila pertunjukan ini mengkritik budaya viral, cukupkah dengan menertawakan video viral lama, atau justru kita ikut menikmati hiburan yang sedang dikritik?

Pementasan Bangkitnya Don Quixote oleh Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah

Sebelum lampu padam, kami dibagi lotion anti nyamuk oleh panitia. Kain hitam menutup seluruh dinding. Panggungnya berbentuk proscenium. Saya duduk di tengah bagian belakang, di bangku yang lebih tinggi daripada penonton lesehan di depan. Sutradara Ananda Dwi Pangestu, yang saya ajak ngobrol pasca pementasan, membenarkan bahwa susunan ini lahir dari keterbatasan fasilitas.

Kami diberi senjata untuk melawan musuh kecil yang kasat mata, nyamuk. Tak lama kemudian, di panggung kami disuguhi pertarungan melawan musuh yang tidak kasat mata sama sekali, internet. Itulah Bangkitnya Don Quixote karya Ranang Aji SP. Saya datang tanpa bekal apa pun soal kisah kesatria dari La Mancha. Saya tidak tahu siapa Sancho dan tidak tahu kenapa orang menyerbu kincir angin. Posisi ini bermanfaat, sebab saya bisa menguji apakah pertunjukan ini sanggup berdiri sendiri bagi penonton yang belum pernah membaca novel karya Cervantes yang paling terkenal itu?

Jawabannya baru bisa saya berikan di akhir tulisan.

Siaran Langsung dari Ruang Gelap

Pementasan tidak dibuka oleh sang kesatria, melainkan oleh Sancho (Nauval Hali). Ia muda, berambut panjang warna-warni, berbaju nyentrik ala hip-hop, dan sedang live di Instagram. Ia bicara pada kamera, sekaligus pada kami. Dinding keempat runtuh sejak menit pertama. Sancho menyampaikan sinopsis kepada penonton dan berinteraksi seolah kami adalah pemirsa siaran langsungnya, bahkan ia sempat nge-rap.

Pembukaan ini cerdik, karena penonton tidak diceramahi tentang bahaya media sosial yang membosankan. Melainkan langsung ditempatkan di dalam ekosistem yang hendak dikritik: sosial media, algoritma, dan diri yang selalu ingin tampil di depan kamera. Dalam naskah, Sancho memang digambarkan sebagai influencer kecil-kecilan. Nauval menerjemahkannya menjadi sosok yang cair dan akrab, sehingga penonton, baik yang lesehan maupun yang di bangku belakang seperti saya, langsung merasa diajak bicara.

Dari mulut Sancho premis diumumkan. Algoritma internet telah merusak kehidupan manusia, maka ia ingin membangkitkan Don Quixote sang kesatria, untuk melawannya. Bagi penonton awam, pengantar ini cukup untuk tahu siapa melawan siapa, meski belum jelas mengapa yang dipanggil justru seorang kesatria.

Layar dari Kain, Pedang dari Gagang Sapu

Selama Sancho berusaha membangkitkan Don Quixote, panggung dipenuhi layar yang menyala dan tulisan error muncul bergantian. Dari pengamatan saya pasca pementasan, saya bisa melihat hal yang mungkin luput dari pandangan penonton. Layar-layar yang ada di panggung itu ternyata hanyalah bingkai kayu berbalut kain putih dengan lampu strip di baliknya. Visualnya ditembakkan dari beberapa proyektor yang gambarnya dipotong-potong, sehingga satu proyektor mengisi beberapa layar sekaligus.

Dengan sumber daya terbatas, Teater Syahid berhasil membangun kesan panggung futuristik yang megah, jenis yang di tempat lain biasanya mengandalkan panel LED mahal. Layar-layar itu juga tidak berhenti sebagai dekorasi pembuka. Sepanjang pertunjukan ia berubah fungsi, dari tempat Don Quixote bangkit, menjadi tempat banjir konten, lalu medan perang. Konsistensi itu membuat panggung terasa punya logika sendiri.

(Kebangkitan Don Quixote. Foto: Nahda)

Ruang teater riuh dengan tawa, sebab kebangkitan Don Quixote diiringi serangkaian lagu viral tiktok dan pemeran lain yang bahkan tanpa kontes dihadirkan begitu saja untuk meramaikan panggung. Don Quixote (Muhammad Fatih Fatin Nuha) muncul dari balik layar membawa pedang lancer dari botol plastik dan gagang sapu, tetapi tetap berkesan robotik. Kostumnya sengaja dibuat konyol meski temanya dunia modern. Naskah menyebut zirahnya dirakit dari benda rumah tangga, seperti helm sepeda dan pedang tripod. Ia gagah sekaligus menggelikan, dan percampuran itulah yang menjadi inti tokohnya. Fatih sendiri memainkannya sebagai orang yang terbangun di dunia yang tak ia mengerti, tetapi tetap keras kepala pada keyakinannya sendiri. Kesan tersebut sesuai dengan gelagat sang kesatria dari La Mancha, orang linglung yang keras kepala dan gigih.

Banjir Humor

Separuh pertunjukan berjalan saya menyadari, sutradara jelas memilih humor sebagai bahasa utama. Bagaimana tidak, hampir setiap fragmen diselipi lelucon, baik lewat dialog maupun gerak. Pilihan ini berhasil. Terbukti tawa penonton pecah berkali-kali dan bersahut-sahutan memenuhi seisi ruang teater.

(Don Quixote Kebingungan Dengan Internet. Foto: Nahda)

Salah satu momen terbaiknya terjadi ketika Don yang baru bangkit kebingungan memahami internet, sementara semua layar memutar video konyol yang pernah trending selama satu dekade terakhir, dari “Dilan cepmek” hingga video konyol yang lain, diputar secara bersamaan. Hasilnya chaos yang kocak, dan kekacauan itu bekerja ganda. Ia lucu, tetapi sekaligus memperagakan bagaimana konten brainrot membanjiri kepala kita tanpa jeda. 

Sancho lantas menjelaskan apa itu algoritma dan mengapa ia berbahaya. Penjelasan ini ditujukan kepada Don Quixote, tetapi sebenarnya untuk penonton juga, dan di situlah naskah yang berat menjadi ringan dicerna. Don Quixote menyatakan perang meski tak sepenuhnya paham. Sancho mendampinginya menghadapi musuh yang terus bermunculan. 

(Parodi Talk Show di Televisi. Foto: Nahda)

Mula-mula ia masuk ke dunia Roblox, melawan karakter bertubuh tumpul yang bergerak secara kaku. Setelahnya ia ditarik untuk menjadi narasumber di acara talkshow yang nampak dengan jelas berusaha memanfaatkan momentum trendingnya Don Quixote di internet. Itu semua terjadi berturut-turut, musuh Don Quixote tak lagi berupa raksasa. Ia berupa hiburan yang terlalu mudah ditelan. Satire ini cukup mengena, sebab bahaya terbesar media digital jarang tampil menyeramkan. Ia justru tampil menyenangkan.

Kalah oleh Trending

Ironi terbesar menunggu di akhir perang, Don Quixote muncul kehadapan penonton dengan kursi roda. Ia tidak kalah oleh pedang, melainkan oleh popularitasnya sendiri. Kebangkitannya menjadi trending, lalu algoritma memunculkan Don Quixote dalam banyak versi buatan AI. Kesatria yang hendak melawan sistem justru digandakan, ditiru, dan dijinakkan oleh sistem itu.

(Persidangan Don Quixote. Foto: Nahda)

Inilah bagian terkuat pertunjukan menurut saya, dan paling setia pada gagasan naskah. Dalam naskahnya, Don Quixote hadir sebagai berbagai simulasi yang bisa diunduh, diblokir, atau dimonetisasi, termasuk satu versi sempurna yang bersedia menghibur tanpa melawan apa pun. Algoritma tidak perlu mengalahkan lawannya, cukup menjadikannya konten. Perlawanan yang viral berhenti dan berubah menjadi produk hiburan semata. Hidup Don Quixote kini hanya bergantung pada angka yang bergerak berdasarkan kepuasan masyarakat internet.

Taman Bermain yang Terlepas

Setelah itu fragmen berlanjut ke taman bermain anak-anak, dan disinilah pegangan saya lepas. Sejujurnya saya tidak menangkap kaitannya dengan fragmen sebelumnya. Baru setelah membaca lebih lanjut, saya tahu bahwa anak-anak ini dimaksudkan sebagai kelahiran ulang mitos di luar sistem monetisasi. Mereka memainkan kembali semangat Don Quixote tanpa tahu siapa dia. 

(Taman Bermain Anak-Anak. Foto: Nahda)

Namun gagasan itu tidak sampai kepada saya lewat panggung, dan saya harus membaca naskah dulu untuk memahaminya. Para pemain anak, di antaranya Abi Ramadhan, Najwan Syakir, serta yang lainnya harus diakui menghidupkan ruangan lewat tingkah yang lugu dan konyol. Tetapi tawa itu berhenti sebagai tawa. Peralihan dari perang melawan algoritma ke permainan anak tidak diberi jembatan yang cukup, sehingga fragmen ini terasa seperti pertunjukan lain di panggung yang sama.

Saya kira akarnya ada pada dosis humor. Menurut saya, sekitar tujuh puluh persen tawa malam itu lahir dari penggunaan properti. Properti memang dipakai maksimal dan cerdas, tetapi ketika lelucon menjadi penggerak utama adegan, makna ikut terkorbankan. Di banyak adegan tawa datang lebih dulu, dan pemahaman tak sempat menyusul. Yang bertahan di kepala saya sesudah pentas hanyalah celoteh Sancho di awal tentang zaman post-truth, hoaks, dan algoritma yang mendorong konten tak bermutu demi engagement. Pesan sepenting itu seharusnya bergema sepanjang pertunjukan, bukan hanya hadir di pembuka.

Ada pula pertanyaan yang sulit saya singkirkan. Bila pertunjukan ini mengkritik budaya viral, cukupkah dengan menertawakan video viral lama, atau justru kita ikut menikmati hiburan yang sedang dikritik? Bisa jadi itu disengaja, satire yang membuat penonton menertawakan diri sendiri. Tetapi satire seperti itu butuh momen ketika tawa berbalik menjadi tanya, lewat jeda hening atau perubahan nada yang mendadak. Naskahnya sendiri merancang Babak IV minimalis, tanpa layar dan teknologi, sebagai kontras atas kebisingan sebelumnya. Kontras itulah yang saya rindukan di panggung.

Struktur naskah berisi kolase fragmen yang tak menuntut alur linier, patut dihargai dan sejalan dengan semangat teater pasca-dramatis. Tetapi serpihan tetap butuh benang agar tersusun menjadi spiral makna, bukan sekadar tumpukan. Serpihan pertunjukan ini kuat, namun benangnya belum cukup kasatmata bagi penonton yang datang tanpa bekal.

Satu hal yang patut dipuji pada pementasan ini, ketika para kru memasuki taman bermain saat curtain call. Langkah ini melengkapi break the fourth wall yang dibuka Sancho lewat siaran langsungnya. Pertunjukan dibuka dengan menembus batas panggung dan penonton, lalu ditutup dengan menembus batas pemain dan pekerja panggung. Rapi, dan menunjukkan bahwa Teater Syahid sadar benar mereka sedang bermain di batas-batas itu.

Kembali ke La Mancha: Mengapa Kesatria Ini Harus Gila

Jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini datang belakangan, ketika saya membaca Don Quixote karya Miguel de Cervantes. Novel itu mengisahkan bangsawan tua yang kehilangan akal sehat karena terlalu banyak membaca dongeng ksatria. Ia lalu yakin dirinya kesatria pengembara, merakit zirah dari barang seadanya, dan berkelana bersama pengawalnya, Sancho Panza. Episode paling terkenal adalah ketika ia menyerbu kincir angin karena mengira itu sekumpulan raksasa. Itu tanda bahwa ia benar-benar gila, sebab ia melihat musuh di tempat yang tidak ada musuhnya.

Konteks ini membuka banyak hal. Ia menjelaskan mengapa Don Quixote di panggung tampak konyol dan mengapa zirahnya dari botol plastik dan gagang sapu. Ia juga menjelaskan betapa absurdnya kesatria yang melawan algoritma, sesuatu yang bukan makhluk hidup dan tak bisa ditebas, sebagaimana kincir angin tak mungkin dikalahkan dengan tombak. Bedanya, kincir Cervantes hanyalah benda mati yang salah dikira, sedangkan algoritma adalah lawan yang sungguh ada tetapi tak terlihat. Kegilaan Don Quixote di abad ke-17 menjadi cara Ranang Aji SP bertanya: jangan-jangan yang tampak gila hari ini justru orang yang masih mau melawan sesuatu yang buruk namun tak kasatmata?

Maka pertanyaan awal saya terjawab, soal apakah kita bisa menikmati pertunjukan ini tanpa membaca Don Quixote terlebih dahulu. Mungkin separuh ya, separuh belum. Pertunjukan ini cukup berdiri sendiri untuk membuat penonton awam tertawa dan menangkap premis algoritmanya, tetapi lapisan terdalamnya, yakni mengapa harus kesatria, mengapa harus gila, dan mengapa anak-anak, baru terbuka bagi yang membawa bekal. Sinopsis singkat tentang novelnya di buku acara atau playbill mungkin cukup untuk menutup jarak itu.

Lalu kembali ke lotion anti nyamuk di awal malam. Kami dilindungi dari gigitan yang terasa, sementara musuh sesungguhnya menggigit tanpa terasa dan membuat kita merasa nyaman saat digigit. Setelah semua tawa reda, pertanyaan Teater Syahid tetap tinggal: bila kebangkitan seorang kesatria pun bisa dijadikan konten, dengan apa kita melawan? Mungkin jawabannya ada pada anak-anak di taman bermain itu, yang tak punya akun media sosial dan tak peduli berapa kali permainan mereka ditonton.

Pemain:

  1. Sancho: Nauval Hali
  2. Don Quixote: Muhammad Fatih Fatin Nuha
  3. Anak kecil: Abi Ramadhan, Najwan Syakir, Aulia Rahmawati, Alya Alifia
  4. Presenter: Echa Junika, Sindi Lestari
  5. dll.

Sutradara: Ananda Dwi Pangestu

Penulis naskah: Ranang Aji SP



Penulis: Akmal Hafizh Haqqani

Editor: Maysha Yusuf


Ingin Membaca Naskah Selengkapnya?

Arsip ulasan dan esai penuh di Lingkar Panggung dapat diakses secara gratis oleh seluruh anggota komunitas terdaftar.

← Kembali ke Beranda
Telah dibaca 24 kali
Tautan berhasil disalin ke papan klip!