Logo Lingkar Panggung Lingkar Panggung
Nonton • 2026-10-03

Todongan Pistol Kemiskinan dalam Tuhan, Tolong Bunuh Emak

Todongan Pistol Kemiskinan dalam Tuhan, Tolong Bunuh Emak

Dalam pertunjukan Teater Epinasti, kemiskinan seperti todongan pistol. Di mana negara dan Tuhan ketika seseorang ditodong pistol tanggung jawab semacam itu? Apakah negara dapat menjadi sasaran baru pistol itu atau malah membantu menarik pelatuk agar lebih mudah keluar peluru dari selongsongnya?

Tepat sehari sebelum bangsa ini merayakan ulang tahunnya, kawan-kawan Teater Epinasti mempertunjukkan teaternya dalam rangka Festival Teater Kampus Jakarta (FTK). Sebuah pertunjukan teater yang agaknya tepat menjadi tabir refleksi Republik ini di hari jadinya. 

Epinasti mementaskan naskahnya, Tuhan Tolong Bunuh Emak karya Yessy Natalia, di Studio 1 IMDE (Institut Media Digital Emtek) yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat (16/8/2026). Pementasan ini disutradarai oleh Chelsea Liusiana. Di tengah lalu lintas Jakarta yang tidak nyaman, lokasi pementasan ini sangat ramah bagi pengguna transportasi umum. Selain itu, usher-nya juga sangat ramah dan informatif. Pengarahannya jelas meskipun ternyata rute dari pintu masuk ke lokasi cukup membingungkan. Akhirnya, kami pun duduk dan bersiap menanti apa yang akan Teater Epinasti sajikan kepada penontonnya.

Sekelibat tentang Tuhan Tolong Bunuh Emak-nya Epinasti

Tabir dibuka dengan serangkaian aktor-aktor yang muncul di atas panggung dalam keadaan histeris. Terdengar suara kereta yang berlalu di tengah-tengah mereka. Teriakan-teriakan "Ada yang mati?" dan "Siapa?" menggaung ke segala arah panggung. Semua itu diiringi oleh musik langsung dengan drum yang ditabuh, menambah keintiman pementasan. Sedikit keluhan, dari posisi duduk saya dengan rekan saya, kami mendengar adanya suara pengarahan dari kru suara, yang saya tidak tahu apakah itu disengaja atau tidak, tetapi hal itu sedikit mengganggu.

Adegan berganti berfokus kepada sebuah rumah sederhana dengan bunyi kipas angin yang ditempel di dinding. Rupa dari panggung sangat mengesankan. Terlihat dari tembok yang tampak terbuat dari triplek, coret-coretan di dindingnya, hingga meteran listrik yang diinstalasi lengkap dengan bunyi sekaratnya. Terdengar suara batuk-batuk, tanda orang sakit. Kemudian, masuklah tokoh utama pementasan ini, Bekti (dimainkan oleh Irfan Afandi). Datang dengan motornya, tampaknya habis pulang kerja.

Bekti pulang disambut istrinya, Minah (dimainkan oleh Arafah Nabila Auralia). Dengan masam nan ketus, Minah menyambut suaminya, "Udah pulang?". Bekti, yang dari mukanya tampak mendapat "hibah" beban pikiran, tampaknya tidak ingin menerima "hadiah" lagi. Namun, Minah masih ingin memberikan sesuatu. "Obat kecoak yang Abang kasih dari kantor udah nggak mempan lagi [...], obat buat Emak juga udah abis. Itu tadi yang terakhir. Udah nggak ada yang bisa aku kasih. Bang? Jangan diem aja, Bang!".

Sayangnya, perdebatan antara dua insan yang saling mencintai ini harus berakhir dengan kedatangan seorang tokoh. Ia adalah penagih utang yang bernama Bang Jaul (dimainkan oleh Muhammad Sultan Pasha). Dengan nada pasif agresif, Bang Jaul mendekati Bekti dan Minah untuk menagih utang.

"Selamat sore, Pak Bekti. Susah sekali lho nyari Pak Bekti ini. Sudah seminggu ini saya nyari ke sini, kok nggak ada terus. Ke mana aja, Pak? Kalian ini, sore-sore berduaan di rumah. Hayo, mau ngapain? Mau bikin anak lagi, ya?"


Minah, yang sudah lelah dengan urusan rumahnya, memutuskan pergi ke dalam rumah menyisakan suaminya. Di sini terjadi tarik ulur antara Bekti dan Bang Jaul. 


"Wooo. Masak, sih? Tadi katanya lembur teroooss. Jadi pasti duit lemburnya juga banyak, apalagi kantornya Pak Bekti kerja itu 'kan kantor yang bonafide."


Di sini saya harus memberikan apresiasi lebih kepada pelakon Bang Jaul. Baik dari gestur, intonasi, serta pembawaan karakternya membuat warna dan nuansa yang berkesan. Kemudian, tarik ulur antara Bekti dan Bang Jaul berakhir dengan alot sampai Bekti menyebutkan nama putrinya, Wiyarti. Di sinilah terbesit ide Bang Jaul untuk Bekti menyerahkan putrinya tersebut untuk dikawinkan kepada Bos.


"Halah! Pak Bekti ini kok aneh-aneh. Anak perempuan itu kalau sudah lulus SMA, kawinkan saja. Yang penting bisa masak, bisa beres-beres rumah, cukup. Eh, ngomongin pekara utang, Pak Boss saya itu 'kan lagi nyari istri, lho. Apa bisa Wiyarti jadi istri beliau? Itu bisa lho mengurangi utang Pak Bekti."


Bekti, yang sedari awal sudah masam mukanya akibat masalah finansial, tergoda dengan penawaran tersebut. Sayangnya, memberikan putrinya kepada pria lanjut usia kaya dan rakus tidak cukup untuk melunasi utangnya, apalagi memberikan uang lebih untuk Emak. Alot berganti basi, akhirnya Bang Jaul membawa paksa motor Bekti. Bekti memohon agar diberikan waktu, terutama untuk opsi memberikan anaknya kepada Pak Bos. Dengan masam, Bang Jaul hanya berteriak: “Jangan lama-lama mikirnya!”.


Kegemingan. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan hasil tarik ulur Bekti dengan Bang Jaul. Kegemingan itu pecah ketika suara kipas dari rumah Bekti mati dan meteran tak lagi berbunyi. Selain Bekti dan Minah, matinya listrik juga disadari oleh tokoh lain, yaitu Emak (dimainkan oleh Salwa Salsabilla), yang sakit-sakitan.


Emak meminta tolong agar dibantu untuk proses buang hajatnya. Setelah selesai dengan Emak, terjadi lagi perdebatan antara Minah dan Bekti. Dilema antara pengobatan Emak dan biaya kuliah Wiyarti, itulah yang mewarnai pementasan ini sampai selesai. Perdebatan ini terputus sementara, karena kehadiran seorang tamu yang bernama Werdi (diperankan oleh Gezar Rizqy Anargya), sahabat Bekti.


Minah kemudian pergi untuk membeli paracetamol dan token listrik, menyisakan Bekti dengan Werdi. Werdi membuka obrolan dengan memberitahu Bekti bahwa telah terjadi peristiwa bunuh diri di rel kereta api yang memakan korban bernama Wakidi. Wakidi bunuh diri akibat tidak lagi mampu membayar utang meskipun rumah dan anak perempuannya telah diambil. Bekti yang kebingungan akan langkah apa yang harus ia ambil, lantas curhat kepada Werdi. Namun, Werdi justru malah melempar gagasan yang membuat Bekti bingung.


"Kalau aku sakit parah, dan Santi sepintar Wiyarti, tidak akan kubeli obat buatku. Biar uangnya untuk bekal Santi kuliah. Biar saja aku mati pelan-pelan. [...] Tuhan juga tidak mendengar doa-doaku. Aku hanya meminta supaya Tuhan tidak membuatku miskin, dan bertahun-tahun aku bekerja siang dan malam. Ada perubahan? Tidak! [...] Jika tak tahan, mungkin aku akan mencontoh Wakidi. Hahaha....".


Di sini saya harus memberikan apresiasi lebih kepada pemeran Werdi. Pada pementasan ini watak Werdi digambarkan dengan cukup komikal lengkap dengan tawa jahat khas penjahat. Pengarahan karakter ini pun adalah sebuah perubahan dari naskah aslinya yang dilakukan oleh sutradara. Gezar sangat piawai dalam membawakan watak ini dengan gestur dan intonasi yang sangat membekas dalam pikiran saya. Pembawaan baru ini juga membuat pementasan ini jauh lebih mencolok.


Setelah berdiskusi sok filosofis dengan Bekti, Werdi pergi dengan gelak tawanya yang memenuhi satu teater. Minah yang baru pulang baru menyadari motor bebek Bekti telah diambil oleh Bang Jaul. Di sinilah Bekti melempar gagasan untuk menyerahkan Wiyarti agar ia menjadi istri Pak Bos. Minah jelas menolak. Namun, langkah tetap harus diambil mengingat gaji Bekti ke depannya pun tidak mampu menutupi keduanya. Perdebatan sengit terus berlanjut hingga Emak meminta untuk diambilkan air. Apresiasi kepada para pelakon yang telah membuat adegan ini begitu intens dengan tensi yang tinggi.

Ketika Minah sibuk di dapur, Bekti pun menghampiri Emak. Terjadi percakapan dari hati ke hati antara Bekti dan Emak. Emak sudah ikhlas akan nasibnya dan meminta Bekti untuk fokus kepada kehidupannya dan keluarganya. Bekti jelas tidak dapat menerima itu, karena tidak mungkin seorang anak menelantarkan orang tuanya. Percakapan itu harus berakhir karena Minah pamit untuk mencuci di kampung sebelah.

Kepergian Minah menyisakan Bekti dan Emak yang sudah terkulai lemas di atas dipan. Bekti larut dalam bingung, tercermin dari dirinya yang mondar mandir ke sana ke mari. Di sini, saya apresiasi bagaimana pemeran Bekti dapat mengungkapkan begitu banyaknya lamunan pikiran dia tanpa sepatah kata pun. Kemudian, Bekti pergi meninggalkan rumah, lalu sekejap suara kereta terdengar.


Catatan Akhir dan Refleksi 

Indra saya begitu dimanjakan dengan pementasan ini. Selamat kepada kawan-kawan Epinasti yang telah menuntaskan FTK pada tahun ini. Banyak hal yang saya harus puji dan apresiasi selain beberapa hal yang saya sudah sebutkan di atas. Mulai dari blocking para pemain yang tepat, properti yang lebih dari memadai, seperti motor bebek yang benar-benar dibawa ke dalam panggung dan meteran listrik yang saya rasa asli. Kualitas suara juga sangat memanjakan telinga.


Tentu saja pementasan ini juga bukan tanpa cacat. Saya kurang mengerti kenapa ada penonton yang dibiarkan membawa bayi pada pementasan ini. Suara tangisnya benar-benar dapat bersaing dengan gelak tawanya Werdi. Saya mengecek aturan juga tidak terdapat anjuran untuk tidak membawa bayi. Hal ini semakin diperkuat dengan tidak adanya batas usia untuk penonton. Hal ini mungkin bisa menjadi masukan untuk teman-teman Epinasti ke depannya untuk menjaga pementasan mereka.

Selepas menonton teater ini, saya pun termenung. Siapa yang harus membuat keputusan sulit itu? Apakah yang Bekti lakukan adalah kabur dari todongan pistol tanggung jawab? Di mana negara dan Tuhan ketika seseorang ditodong pistol tanggung jawab semacam itu? Apakah negara dapat menjadi sasaran baru pistol itu atau malah membantu menarik pelatuk agar lebih mudah keluar peluru dari selongsongnya? Namun, yang tidak perlu dipertanyakan adalah usaha kawan-kawan Epinasti dalam menunaikan pementasan ini dan memicu perenungan selanjutnya.


Penulis: Muhammad Jaiz

Editor: Maysha Yusuf







Ingin Membaca Naskah Selengkapnya?

Arsip ulasan dan esai penuh di Lingkar Panggung dapat diakses secara gratis oleh seluruh anggota komunitas terdaftar.

← Kembali ke Beranda
Telah dibaca 22 kali
Tautan berhasil disalin ke papan klip!